Perbuatan baik yang dilakukan oleh orang lain kepada kita sudah sepantasnya kita balas dengan yang sebanding, kalau kita tidak bisa membalas dengan pemberian maka minimal kita mengucapkan ucapan yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu,
جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا
Dibaca “jazakallahu khairan” atau bila di perinci panjang pendeknya ditulis, “JazaakAllaahu Khairan”, yang maknanya adalah “Semoga Allah membalas dengan kebaikan yang setimpal.”
Kalimat di atas di baca ketika dhomirnya adalah kata ganti ke-2 seorang lelaki tunggal, adapun kalau dhomirnya adalah kata ganti ke-2 perempuan tunggal maka kalimatnya di rubah menjadi,
جَزَاكِ اللهُ خَيْرًا
Artinya sama, hanya kalimat ini ditujukan untuk perempuan tunggal. (Silakan lihat kembali pada pelajaran dhomir.)
Kalau kata gantinya adalah jamak, maka dirubah menjadi,
جَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا
Dan seterusnya…
Jadi, penulisan sebagian ikhwah yang menuliskannya dengan tulisan “jazakallah” saja, adalah kurang tepat, maksud dari jazakallah di atas adalah apa? Semoga Allah membalas dengan kebaikan atau dengan keburukan?, maka menyebutkan kalimat yang Rasulullah ajarkan adalah lebih baik, “jazakallahu khairan, jazahullahu khairan, jazakumullahu khairan dst…. sesuai konteksnya.”
Semoga bermanfaat…
Kami tunggu komentarnya…
Print This Post
35,872 views











24th February 2009 pada waktu 11:31 am
jazakallahu khairan atas artikelnya, moga yg blum pham bisa pham…
25th February 2009 pada waktu 7:45 am
Tolong tuliskan bismillahirahmanirahim dalam tulisan arab gundul,trim.s
25th February 2009 pada waktu 6:00 pm
alhamdulillah sekarang jadi tau … karena biasanya cuma bilang / nulis “jazakallah” saja . Tapi terkadang ada yang menulis “jazakallah khoiron katsir” ,itu gimana? gak pa-pa ya??
Jazakallah khoiron .
25th February 2009 pada waktu 6:13 pm
#Anggra
InsyaAllah yang lebih baik dengan mengucapkan “JazakAllah Khairan” akh, karena itulah yang diajarkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.
26th February 2009 pada waktu 11:59 pm
assalamu’alaikum, jazakallahu khoiron mas untuk artikelnya, bermanfaat banged buat aku n teman2 di sekolah. alhamdulillah, ijin ngopi artikel ya mas buat teman2ku di rohis.
5th March 2009 pada waktu 7:51 pm
#adadeh
Bisa kita jawab dengan mengucapkan وإياك (waiyyak) atau وإياكم (waiyyakum). Akan tetapi yang lebih baik adalah membalas dengan yang semisal yaitu membalas dengan mengucapkan “jazakAllahu khairan”.
5th March 2009 pada waktu 8:33 am
kalo orang ucapkan jazakallahu Khairan kpd kita, trus kita balas dgn ucapan apa ya ?
6th March 2009 pada waktu 7:01 am
alhamdulillah…jadi nambah ilmu nih,buat kita semua….
13th March 2009 pada waktu 11:15 pm
kalo orang ucapkan jazakallahu Khairan kpd kita, trus kita balas dgn ucapan apa ya ?
==>
bisa juga di jawb dengan “wa anta kadzalika”
13th March 2009 pada waktu 11:16 pm
kalo orang ucapkan jazakallahu Khairan kpd kita, trus kita balas dgn ucapan apa ya ?
==>
bisa juga di jawab dengan “wa anta kadzalika”.
apa bisa seperti itu? mohon koreksinya dari ustadz.
13th March 2009 pada waktu 11:39 pm
# Abu Zahrah
Iya akhi, bisa juga dijawab dengan ucapan seperti itu.
10th June 2009 pada waktu 8:33 pm
# ukhti
1.
Kalau diganti khair saja tidak apa-apa ukh.–> ada koreksi dari kami pada komentar ini, silakan diikuti penjelasannya pada komentar-komentar berikutnya.2. Benar ukh, kami sudah menulis di atas, “Dibaca “jazakallahu khairan” atau bila di perinci panjang pendeknya ditulis, “JazaakAllaahu Khairan”.” Kami menuliskannya dengan pendek hanya untuk memudahkan, akan tetapi maksudnya adalah JazaakAllaahu Khairan.
10th June 2009 pada waktu 6:45 pm
kalau khairannya diganti dengan khair ajah gpp?
jadi jazakallah khoir
10th June 2009 pada waktu 6:51 pm
penulisan jazakallahu diatas mengapa za dan la nya tidak ditulis panjang?
bukankah seharusnya jazaakallaahu khairan?
10th June 2009 pada waktu 10:36 pm
jd bila ditulis khoir saja gpp dan tidak merubah arti yah. hanya kesalahan pada kaidah membacanya/menulisnya saja? karena kalau dilihat dr lafazhnya kan diakhir itu ada tanwin.
kemudian,apakah panjang pendek merubah makna? karena kalau hanya untuk memudahkan saja rasanya tidak sulit untuk hanya mnambahkan a satu buah saja.
mohon pencerahannya.
jazaakallaahu khayran
10th June 2009 pada waktu 11:27 pm
# ummu abdullah
1. Kalau merubah arti insyaAllah tidak, kalau tanwin di akhir, dalam pengucapan biasa tidak dilafazkan, misalnya kita mengatakan madrasah, itu juga kan sama, aslinya madrasatun, kenapa tidak madrasatun, begitu juga kata bismillah, harusnya kan bismillahi, kata muhammad harusnya muhammadun dst…
2. Untuk panjang pendek, kami hanya mengambil transliterasi yang kami buat sendiri, selama tidak merubah arti insyaAllah tidak apa-apa. Untuk transliterasi bahasa arab, kami tidak tulis lengkap panjang pendeknya. Karena nanti kalau mau konsisten kesulitan ukh, untuk kata ini mungkin tidak masalah, akan tetapi kalimat lain, ada kata yang harakatnya sampai 6 harakat sesuai kaidah tajwid sulit diperaktekkan dalam bahasa indonesia, apa mau di tulis “aaaa”?.
Praktek ini juga sebenarnya sudah berjalan dalam bahasa indonesia, bukankah lafazh jalalah Allah hanya ditulis dengan “a” satu, harusnya kan Allaah, akan tetapi hal ini tidak dipermasalahkan, nama Utsman hanya di tulis dengan satu “a” harusnya kan Utsmaan dan kata-kata yang lain.
Semoga bisa menjelaskan, saran dan masukannya kami tunggu, BarakAllah Fikum
26th June 2009 pada waktu 6:23 am
apakah makna dari “wa anta kadzalika”
26th June 2009 pada waktu 7:46 pm
#iyan
Begitu pula dirimu, atau kalau diartikan bahasa indonesia dari konteks di atas, bisa dikatakan “sama-sama”
26th June 2009 pada waktu 8:28 pm
ilmu yang bermanfaat akan memberatkan timbangan kebaikan nanti di akhirat, jazakallahu khairan
5th July 2009 pada waktu 9:53 am
@iyan : ana juga baru belajar akhi, tapi cobalah sekalian mempraktekkan pelajaran
wa itu dan
anta itu kamu
kadzalika itu sepertinya dari dzalika yang artinya itu
mungkin itu artinya “dan kamupun begitu/seperti itu” dengan kata lain “sama2″
semoga ikhwan2 yang lebih tau mau mengoreksi ana kalau ana salah dalam mengartikan. Kita sama-sama belajar.
Jazakallahu khairan buat artikelnya.
5th July 2009 pada waktu 6:00 pm
# Harun
Waiyyakum akhi…
6th August 2009 pada waktu 2:46 am
HUKUM SEPUTAR UCAPAN “JAZAKALLAHU KHAERAN”
Ini adalah beberapa fatwa yang bermanfaat dari Al-Allamah Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahulloh Ta ’a-la, menjawab beberapa pertanyaan setelah Beliau menjelaskan hadits Usamah bin Zaid radliallohu anhu bahwa Rasululloh Shallallohu alaihi wasallam bersabda:
من صُنِعَ إليه مَعْرُوفٌ فقال لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ الله خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ في الثَّنَاءِ
“Barangsiapa yang diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan : jazaakallahu khaer (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.”
(HR.At-Tirmidzi (2035), An-Nasaai dalam Al-kubra (6/53), Al-Maqdisi dalam Al-mukhtarah: 4/1321, Ibnu Hibban: 3413, Al-Bazzar dalam musnadnya:7/54. Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam shahih Tirmidzi)
Berikut ini fatwa Al-Allamah Abdul Muhsin hafizhahulloh, semoga bermanfaat!
Pertanyaan 1:
sebagian ikhwan ada yang menambah pada ucapannya dengan mengatakan “jazakallah khaeran wa zawwajaka bikran” (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dan menikahkanmu dengan seorang perawan), dan yang semisalnya. Bukankah tambahan ini merupakan penambahan dari sabda Rasul shallallahu alaihi wasallam, dimana beliau mengatakan “sungguh dia telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.?
Beliau menjawab:
Tidak perlu (penambahan) doa seperti ini, sebab boleh jadi (orang yang didoakan) tidak menginginkan do’a yang disebut ini. Boleh jadi orang yang dido’akan dengan do’a ini tidak menghendakinya. Seseorang mendoakan kebaikan, dan setiap kebaikan sudah mencakup dalam keumuman doa ini. Namun jika seseorang menyebutkan do’a ini, bukan berarti bahwa Rasulullah melarang untuk menambah dari do’a tersebut. Namun beliau hanya mengabarkan bahwa ucapan ini telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya. Namun seandainya jika dia mendoakan dan berkata: “jazakallahu khaer wabarakallahu fiik wa ‘awwadhaka khaeran” (semoga Allah membalas kebaikanmu dan senantiasa memberkahimu dan menggantimu dengan kebaikan pula” maka hal ini tidak mengapa. Sebab Rasul Shallallohu alaihi wasallam tidak melarang adanya tambahan do’a. Namun tambahan do’a yang mungkin saja tidak pada tempatnya, boleh jadi yang dido’akan dengan do’a tersebut tidak menghendaki apa yang disebut dalam do’a itu.
Pertanyaan 2:
Ada sebagian orang berkata: ada sebagian pula yang menambah tatkala berdo’a dengan mengatakan : jazaakallahu alfa khaer” (semoga Allah membalasmu dengan seribu kebaikan” ?
Beliau -hafidzahullohu- menjawab:
“Demi Allah ,kebaikan itu tidak ada batasnya,sedangkan kata seribu itu terbatas,sementara kebaikan tidak ada batasnya.Ini seperti ungkapan sebagian orang “beribu-ribu terima kasih”,seperti ungkapan mereka ini.Namun ungkapan yang disebutkan dalam hadits ini bersifat umum.”
Pertanyaan: apakah ada dalil bahwa ketika membalasnya dengan mengucapkan “wa iyyakum” (dan kepadamu juga) ?
Beliau menjawab:
“tidak, sepantasnya dia juga mengatakan “jazakallahu khaer” (semoga Allah membalasmu kebaikan pula), yaitu didoakan sebagaimana dia berdo’a, meskipun perkataan seperti “wa iyyakum” sebagai athaf (mengikuti) ucapan “jazaakum”, yaitu ucapan “wa iyyakum” bermakna “sebagaimana kami mendapat kebaikan,juga kalian” ,namun jika dia mengatakan “jazaakallahu khaer” dan menyebut do’a tersebut secara nash,tidak diragukan lagi bahwa hal ini lebih utama dan lebih afdhal.”
(transkrip dari kaset: durus syarah sunan At-Tirmidzi,oleh Al-Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad hafidzahullah,kitab Al-Birr wa Ash-Shilah,nomor hadits:222).
(Diterjemahkan oleh Abu Karimah Askari bin Jamal)
Berikut ini transkrip dalam bahasa Arab:
يقول السائل : بعض الإخوة يتطرق فيزيد على (جزاك الله خيرا وزوجك بكرا) ونحو ذلك.أليس في هذا استدراك على قول النبي صلى الله عليه وسلم فإنه يقول ((فقد أبلغ في الثناء))
فأجاب :ولا حاجة بهذا الدعاء قد يكون ما يريد هذا الشيء الذي دعي به ,أي نعم قد يكون الإنسان الذي دعي بهذا أنه لا يريده .فالإنسان يدعو بالخير وكل خير يدخل تحت هذا العموم .فالإنسان يأتي بهذا الدعاء وليس معنى ذلك أن الرسول × نهى عن ذلك يعني لا يزيد على هذا وإنما أخبر أن هذا فيه إبلاغ بالثناء ,لكنه لو دعا له فقال: جزاك الله خيرا وبارك الله فيك وعوضك خيرا ما فيه بأس ,لأن الرسول × مامنع من الزيادة .لكن مثل هذه الزيادة التي قد تكون في غير محلها ,قد يكون صاحب المدعو له لا ييد هذا الشيء الذي دعي له به .
السؤال: والآخر يقول :يزيد البعض فيقول : جزاك الله ألف خير
فأجاب: والله الخير ليس له حد ,ليس له حد والألف هذا محدود,والخير بدون حد .لكن هذا مثل عبارات بعض الناس :ألف شكر شكر مثل ما يعبرون.لكن التعبير بهذا الذي جاء في هذا الحديث عام
السؤال: هل هناك دليل على أن الرد يكون بصيغة (وإياكم)؟
فأجاب: لا , الذي ينبغي أن يقول :(وجزاكم الله خيرا) يعنى يدعى كما دعا, وإن قال (وإياكم) مثلا عطف على جزاكم ,يعني قول (وإياكم) يعني كما يحصل لنا يحصل لكم .لكن إذا قال: أنتم جزاكم الله خيرا ونص على الدعاء هذا لا شك أنها أوضح وأولى
(مفرغ من شريط دروس شرح سنن الترمذي ,كتاب البر والصلة ,رقم:222)
http://ibnulqoyyim.com/index.php?option=com_content&task=view&id=36&Itemid=2
10th October 2009 pada waktu 9:12 am
Terima kasih Ustad
2nd November 2009 pada waktu 9:51 am
apakah dalam pemunculan huruf alif yang menjadi penanda nashob pada mufrod nakiroh harus dihilangkan begitu saja ketika kita membaca,
setahu saya wajib kita baca jadi harus khoiro atau khoiron, adapun khoir maka tidak ada pilihan lain selain sebagai rafa’ atau jar dan tidak mungkin sebagai nashob,
dan kalau ini terjadi maka kesalahan fatal dalam arti, justru hikmah dari dimunculkan alif pada nashob adalah sebagai pembeda dari i’rob yang lain,,
dan juga ada catatan penting bagi isim yang diakhiri dengan hamzah dan berkedudukan sebagai nashob maka tetap dibaca a nya
contoh nidaa a (نداء ) albaqoroh 171, barang siapa yang membaca nidaaa saja maka dia salah besar dan merubah arti,,
dan faidah ini pun juga berlaku bagi khoiron
wallohu a’lam
2nd November 2009 pada waktu 8:52 pm
#alfaishol
Ahsanta akhi, akan tetapi begitulah yang sekarang dipraktekkan dalam percakapan orang arab, mereka biasa mengucapkan khair saja bahkan mereka mengucapkannya dengan “kheir”.
Maka kami katakan, yang benar adalah pengucapan khaira, akan tetapi dalam muhadatsah (percakapan) penyingkatan khair adalah sesuatu yang sudah biasa diucapkan oleh orang-orang arab.
wallahu a’lam
3rd November 2009 pada waktu 6:12 am
yang saya tahu kheir yang antum maksudkan itu jikalau ada yang bertanya kayfa haaluk maka terkadang disingkat dengan kheir, karena emang boleh (dalam hal ini berkedudukan majrur karena aslinya adalah alhamdulillah ana bikhoir) dan penyebutan ‘e’ itu sendiripun karena penggunaan suuqiyah dalam bahasa arab
tapi kalau memang ada yang mengucapkan kheir/khair dalam pembahasan di tulisan ini (dan faktanya banyak dijumpai saudara2 kita menggunakan jazaakallohu khoir), wallohu a’lam apakah itu dibenarkan atau tidak. sejauh ini saya memandang itu menyalahi kaedah yang shohih,
adapun ketika antum ingin mengangkat tentang pernyataan “akan tetapi dalam muhadatsah (percakapan) penyingkatan khair adalah sesuatu yang sudah biasa diucapkan oleh orang-orang arab” maka harus diberikan isyarat jikalau pernyataan ini berlaku dalam beberapa hal, dan tidak diterima dalam beberapa hal yang lain,,
wallohu a’lam
21st November 2009 pada waktu 11:25 pm
#alfaishol
JazakAllahu khairan akhi atas koreksinya, setelah kami meneliti lebih lanjut dan berkonsultasi dengan beberapa ikhwah dan Ustadz insyaAllah pendapat yang lebih kuat dan hati-hati adalah tetap mengucapkan/menuliskan khaira (tidak khair saja) baik dalam pengucapan terlebih dalam tulisan…
Ini juga sekaligus sebagai koreksi dari pendapat kami yang diawal komentar.
BarakAllahu fikum.
10th December 2009 pada waktu 1:51 pm
بارك الله فيكم
23rd December 2009 pada waktu 6:53 pm
JazakAllahu khairan
13th January 2010 pada waktu 12:33 am
Klau u akhwat biasanya jazakillah apa sm dgn jazahullahu at salah?jazakallah khairan
13th January 2010 pada waktu 12:26 pm
#dede
Untuk wanita orang kedua maka sebutannya jazakillah, kalau orang ketiga maka jazahallah.
ُجَزَاكِ الله dan جَزَاهَا اللهُ
19th February 2010 pada waktu 12:56 am
جَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا
17th September 2010 pada waktu 11:41 am
akhy,
tolong dibahas pengucapan kalimat “minal aidin wal fa izin,halal bi halal,dan sadaqollahul adzim” menurut kaidah bahasa Arab
Jazakallahu khoiron
4th October 2011 pada waktu 7:29 am
bagus..ana penggemar baru,jadi semangat lagi belajar bhs arab.
13th December 2011 pada waktu 11:30 am
جَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا
Semakin tinggi semangat mahu belajar bhs arab nih.. :)
12th January 2012 pada waktu 10:20 am
bagaimana jika JazakAllahu khaira dibalas dengan menjawab aamiin?,
9th June 2012 pada waktu 6:42 pm
Assalaamu’alaikum,
Alahamdulillah ana sudah mengerti makna dari jazaakallaahu khairan, ana terkadang sering tidak lengkap dalam mengucapkan terima kasih atas kebaikan dari seseorang. jazaakalaahu khairan katsiran atas ilmu yang sangat bermanfaat ini.
27th July 2012 pada waktu 11:12 am
syukron ilmunya.. jazakallahu khairan … ^_^ …sekarang ana nda bingung lagi cz sbelume msh bingung…hehe///
6th September 2012 pada waktu 6:57 pm
@nidiya
ya bisa saja, tapi yang lebih utama membalas dengan yang semisal
6th October 2012 pada waktu 8:43 pm
@Debby Ummul
‘afwan …. wa iyyaak ,,, semoga cepat faham