<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bahasa Arab Online</title>
	<atom:link href="http://badaronline.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://badaronline.com</link>
	<description>Bahasa Arab Bekal Memahami Agama Islam</description>
	<lastBuildDate>Sat, 14 Aug 2010 01:32:45 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Faidah Penggunaan Alif Dan Lam Dalam Kalimat Bahasa Arab</title>
		<link>http://badaronline.com/artikel/faidah-penggunaan-alif-dan-lam-dalam-kalimat-bahasa-arab.html</link>
		<comments>http://badaronline.com/artikel/faidah-penggunaan-alif-dan-lam-dalam-kalimat-bahasa-arab.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 May 2010 01:06:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Alif Lam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://badaronline.com/?p=942</guid>
		<description><![CDATA[Ada suatu kaidah penting dalam ushul tafsir, dimana jika terdapat alif dan lam masuk pada isim jenis (seperti manusia, jin dll) atau masuk pada   isim sifat (nama sifat), maka menunjukkan istigroqiyah, yakni   menunjukkan makna yang mencakup keseluruhan dari jenis atau sifat yang   dimasukinya.
Pada pelajaran mengenai bahasa arab, kita ketahui [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada suatu kaidah penting dalam ushul tafsir, dimana jika terdapat alif dan lam masuk pada isim jenis (seperti manusia, jin dll) atau masuk pada   isim sifat (nama sifat), maka menunjukkan istigroqiyah, yakni   menunjukkan makna yang mencakup keseluruhan dari jenis atau sifat yang   dimasukinya.</p>
<p>Pada pelajaran mengenai bahasa arab, kita ketahui bahwa isim yang   kemasukan alif dan lam adalah isim yang ma&#8217;rifat, yakni isim yang   tertentu, namun ketika alif dan lam masuk pada isim jenis dan sifat,   maka alif dan lam ini berfungsi sebagaimana kaidah di atas. Kaidah ini   telah disepakati oleh para ulama bahasa arab dan juga ulama ushul fiqih.</p>
<p>Contohnya sebagaimana dalam surat al-Ahzab ayat 35:</p>
<p><a class="arab">إِنَّ   الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ   وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمً</a></p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan   perempuan yang mukmin,  laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan   yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan   perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa,   laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan   perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, <strong>Allah telah menyediakan   untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.&#8221;</strong></em></p>
<p><span id="more-942"></span></p>
<p>Pada ayat ini terdapat banyak sekali kata-kata sifat yang kemasukan alif   dan lam. Sehingga dari hal ini kita ketahui bahwa, semua sifat yang ada   pada ayat di atas menunjukkan semua cakupan sifat dan keseluruhan hal   yang terkandung dari sifat, yang akan mengantarkannya kepada ampunan dan   pahala yang besar dari Allah <em>ta&#8217;ala</em>.</p>
<p>Kita ambil contoh misalnya pada kata <a class="arab">الْمُسْلِمِينَ</a>. <strong>Kata ini menunjukkan semua orang muslim yang mempunyai   makna-makna islam, orang muslim yang mengamalkan semua bagian dan   cabang-cabang islam. Sehingga dengan kesempurnaan islamnya, maka semakin   sempurnalah konsekuensinya, yakni magfiroh (ampunan) dan pahala yang   besar dari Allah <em>ta&#8217;ala</em></strong>. Begitu pula, semakin sedikit   kesempurnaan islamnya, semakin sedikit pula <em>magfiroh</em> dan pahala yang   akan diterimanya.</p>
<p>Sehingga dari hal ini, tidak semua orang muslim akan mendapatkan ampunan   dan pahala yang besar dari Allah <em>ta&#8217;ala</em>, akan tetapi hanya   orang muslim yang mempunyai keseluruhan makna islamlah yang mendapatkan   ampunan dan pahala yang besar dari Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Dimana   besar kecilnya ampunan Allah tergantung kadar keislaman yang   dimilikinya.</p>
<p>Demikian juga pada kata <a class="arab">الْمُؤْمِنِينَ</a> yang merupakan kata sifat. Ketika masuk pada kata tersebut alif   dan lam, maka menunjukkan bahwa, <strong>iman yang akan mengantarkan kepada   ampunan dan pahala yang besar dari Allah adalah keimanan seseorang yang   mencakup keseluruhan iman dan cabang-cabang iman, yakni orang yang ada   pada dirinya semua aspek-aspek iman.</strong> Sehingga, semakin sedikit aspek   iman yang dikerjakannya dan semakin rendah keimanannya, maka sedikit   pula ampunan dan pahala yang ia dapatkan. Jika iman hilang, maka   hilanglah ampunan dan pahalanya.</p>
<p>Kaidah ini tidak hanya mencakup pada sifat-sifat yang baik namun juga   mencakup pada sifat-sifat yang buruk dan sifat-sifat yang dilarang oleh Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Ketika Allah mengancam seseorang yang melakukan sifat buruk tertentu, maka jika semakin sempurna sifat buruk yang dilakukannya, maka semakin sempurna pula hukuman yang didapatkan, begitu pula semakin berkurang sifat buruk tersebut, semakin berkurang   pula hukumannya.</p>
<p>Contoh alif lam yang masuk pada isim jenis adalah apa yang ada pada surat Al-Ma&#8217;arij ayat 19-22:</p>
<p><a class="arab">إِنَّ الإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا &#8211; إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا &#8211; وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا &#8211; إِلاَّ الْمُصَلِّينَ</a></p>
<p><em> &#8220;Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.   Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia   mendapat kebaikan ia amat kikir,(21) kecuali orang-orang yang   mengerjakan shalat.&#8221;</em></p>
<p>Pada ayat ini terdapat isim jenis, yakni pada kata <a class="arab">الْإِنْسَانَ</a>, dan terdapat pada kata ini alif dan lam. Berdasarkan kaidah di atas, maka <strong>makna kata ini   mencakup keseluruhan dari manusia</strong>, yang artinya <strong>semua manusia itu   mempunyai sifat keluh kesah dan kikir, kecuali orang-orang yang telah   Allah kecualikan, yakni orang-orang yang shola</strong>t.</p>
<p>Begitu pula pada surat al-&#8217;Ashr, Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p><a class="arab">وَالْعَصْرِ &#8211; إِنََّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ &#8211; إِلَّا الََّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا   بِالصَّبْرِ</a></p>
<p><em> &#8220;Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,   kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat   menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya   menetapi kesabaran.&#8221;</em></p>
<p>Kata <a class="arab">الْإِنْسَانَ</a> menunjukkan   keseluruhan manusia, sehingga arti dari ayat di atas adalah <strong>sesungguhnya   semua manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali yang telah   Allah <em>ta&#8217;ala</em> kecualikan pada ayat di atas.</strong></p>
<p><strong>Untuk bisa mengetahui apakah alif lam yang dimaksud adalah alif lam   <em>istigroqiyah</em> adalah dengan menambahkan kata <a class="arab">كل</a> (kullu) di depan katanya.   Jika penambahan kata ini tidak merubah dan merusak arti, maka berarti   alif lam tersebut adalah alif lam <em>istigroqiyah</em>.</strong></p>
<p>Selain contoh di atas, contoh yang paling agung di dalam penerapan   kaidah ini adalah dalam masalah <em>asma&#8217;ul husna</em>, dimana hampir disetiap   surat terdapat <em>asma&#8217;ul husna</em>.</p>
<p>Di dalam al-Qur&#8217;an Allah <em>ta&#8217;ala</em> mengabarkan kepada kita   bahwa dia adalah Allah,  Al Malik, Al &#8216;Alim, Al Hakim, Al Aziz, Al   Quddusus Salam, Al Hamidum Majid. Dimana pada lafadz Allah terkandung   seluruh makna uluhiyah, hanya dialah dzat yang berhak untuk diibadahi.   Pada kata tersebut terdapat seluruh sifat yang sempurna, seluruh sifat   terpuji, keutamaan, kebaikan dan tidak ada penyekutuan atasnya, baik   dari golongan malaikat, jin, manusia atau seluruh makhluk. Bahkan   seluruh makhluk menyembah kepada Allah dengan penuh ketundukan terhadap   keagungannya.</p>
<p>Begitu pula pada sifat Al malik, yang berarti dzat yg mempunyai semua   makna dan unsur kepemilikan dan kekuasaan yg sempurna. Makhluk   seluruhnya adalah milik allah.</p>
<p>Al &#8216;alim menunjukkan dzat yg mengetahui segala sesuatu, ilmunya meliputi   yang nampak dan tidak nampak, samar dan jelas dan meliputi segala hal yang   diperbuat seluruh makhluknya.</p>
<p>Dan sifat-sifat lainnya dari nama-nama Allah yang husna, yang dari nama   ini terkandung kesempurnaan sifat dan keindahan sifat yang dimiliki oleh   Allah. Sehingga ketika kita menemukan nama-nama Allah, maka sudah   terbesit dalam hati kita bahwa makna dari nama tersebut menunjukkan   kesempurnaan dari sifat tersebut.</p>
<p><strong>Apa dasar munculnya kaidah ini?</strong></p>
<p>Kaidah ini merupakan kaidah yang diajarkan oleh Rasulullah <em>shallallahu   &#8216;alaihi wa sallam</em> sebagaimana sabda beliau pada saat tasyahud:</p>
<p><a class="arab">السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ . فَإِنَّكُمْ إِذَا قُلْتُمُوهَا أَصَابَتْ كُلَّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِى السَّمَاءِ وَالأَرْضِ</a></p>
<p><em>“Semoga perlindungan dan pemeliharaan diberikan kepada kami dan   semua hamba Allah yang <strong>sholih</strong>.  (Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkata) Jika kalian mengucapkan doa ini maka doamu ini akan   mencakup seluruh hamba Allah yang <strong>sholih</strong> yang ada di langit dan   di bumi.”</em></p>
<p><strong>Pada kata <a class="arab">الصَّالِحِينَ</a> terdapat alif dan lam yang berarti mencakup seluruh hamba Allah yang sholih yang ada di langit dan di bumi.</strong></p>
<p>Contoh penerapan kaidah ini sangat banyak di dalam al-Qur&#8217;an</p>
<p>Sumber: <a href="http://ryper.blogspot.com/" target="_blank">Ryper Blog</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://badaronline.com/artikel/faidah-penggunaan-alif-dan-lam-dalam-kalimat-bahasa-arab.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rahasia dibalik Kata Al-Hayaa&#8217; (Malu) Dalam Bahasa Arab</title>
		<link>http://badaronline.com/artikel/rahasia-dibalik-kata-al-hayaa-malu-dalam-bahasa-arab.html</link>
		<comments>http://badaronline.com/artikel/rahasia-dibalik-kata-al-hayaa-malu-dalam-bahasa-arab.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Apr 2010 01:46:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://badaronline.com/?p=936</guid>
		<description><![CDATA[Pembaca mulia, kata &#8220;malu&#8221; dalam bahasa Arab adalah اَلْحَيَاءُ /al-hayaa&#8217;/. Kata ini, merupakan derivat dari kata اَلْحَيَاةُ /al-hayaah/, yang artinya adalah &#8220;kehidupan&#8221;. Selain اَلْحَيَاءُ, contoh derivat lain kata اَلْحَيَاةُ adalah حَيَا /hayaa/, yang artinya &#8220;hujan&#8221;. Apa kaitan antara hujan dan kehidupan? Kaitannya adalah bahwa hujan merupakan sumber kehidupan bagi bumi, tanaman, dan hewan ternak.
Dalam bahasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pembaca mulia, kata <strong>&#8220;malu&#8221;</strong> dalam bahasa Arab adalah <strong><a class="arab">اَلْحَيَاءُ</a> /al-hayaa&#8217;/</strong>. Kata ini, merupakan derivat dari kata <strong><a class="arab">اَلْحَيَاةُ</a> /al-hayaah/</strong>, yang artinya adalah <strong>&#8220;kehidupan&#8221;</strong>. Selain <a class="arab">اَلْحَيَاءُ</a>, contoh derivat lain kata <a class="arab">اَلْحَيَاةُ</a> adalah <strong><a class="arab">حَيَا</a> /hayaa/</strong><strong>, </strong>yang artinya<strong> <strong>&#8220;</strong>hujan&#8221;</strong>. Apa kaitan antara hujan dan kehidupan? Kaitannya adalah bahwa hujan merupakan sumber kehidupan bagi bumi, tanaman, dan hewan ternak.</p>
<p>Dalam bahasa Arab, al-hayaah &#8220;kehidupan&#8221; mencakup kehidupan dunia dan akhirat.</p>
<p>Lalu, kembali ke pokok bahasan utama, apa kaitan <strong>al-hayaa&#8217; </strong>&#8220;malu&#8221; dengan <strong>al-hayaah</strong> &#8220;kehidupan&#8221;?</p>
<p>Jawabannya adalah karena orang yang tidak memiliki rasa malu, ia seperti mayat di dunia ini, dan ia benar-benar akan celaka di akhirat.</p>
<p>Orang yang tidak memiliki rasa malu, tidak merasa risih ketika bermaksiat.</p>
<p>Ketika ia mempertontonkan lekuk-lekuk tubuhnya dan memamerkan auratnya, ia tidak merasa bahwa itu adalah perbuatan yang menjijikkan….</p>
<p>Ketika ia berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya di tengah keramaian, ia tidak peduli dengan tatapan heran manusia…</p>
<p>Ketika ia melanggar setiap larangan Allah, ia anggap sebagai rutinitas, seolah-olah dia tidak merasa bahwa dirinya hina…</p>
<p><span id="more-936"></span>Benar, ia seperti mayat. Ya! apapun yang terjadi di sekitar mayat, tiada kan dapat mendatangkan manfaat baginya…</p>
<p>Maka, benarlah perkataan Ibnul Qayyim</p>
<p><a class="arab">وَمِنْ عُقُوْبَاتِهَا ذِهَابُ الْحَيَاءِ الَّذِي هُوَ مَادَةُ الْحَياَة ِللْقَلْبِ وَهُوَ أَصْلُ كُلِّ خَيْرٍ وَذِهَابُ كُلِّ خَيْرٍ بِأَجْمَعِهِ</a></p>
<p>Di antara dampak maksiat adalah menghilangkan MALU yang merupakan SUMBER KEHIDUPAN hati dan inti dari segala kebaikan. Hilangnya rasa malu, berarti hilangnya seluruh kebaikan.</p>
<p>(<a class="arab">اَلْجَوَابُ الْكَافِي لِمَنْ سَأَلَ عَنِ الدَّوَاءِ الشَّافِي</a>, hal. 45)</p>
<p>Ini sebagaimana sabda Nabi</p>
<p><a class="arab">اَلْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ</a></p>
<p>/Al-hayaa&#8217; khairun kulluhu/</p>
<p>&#8220;Rasa malu seluruhnya adalah kebaikan&#8221; (Shahih Muslim: 87)</p>
<p>Oleh karena itu, seseorang yang bermaksiat dan terus menerus melakukannya, dikatakan sebagai orang yang tidak tahu malu. Nabi bersabda</p>
<p><a class="arab"></a>&#8220;Sesungguhnya termasuk yang pertama diketahui manusia dari ucapan kenabian adalah jika kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu!&#8221;<br />
(Shahih Bukhari: 5769)</p>
<p>Dalam menjelaskan maksud hadits di atas, Ibnul Qayyim berkata,</p>
<p><a class="arab">وَاْلَمَقْصُوْدُ أَنَّ الذُّنُوْبَ تُضْعِفُ الْحَيَاءَ مِنَ الْعَبْدِ حَتَّى رُبَّمَا اِنْسَلَخَ مِنْهُ بِالْكَلِّيَّةِ حَتَّى رُبَّمَا إِنَّهُ لاَ يَتَأَثَّرُ بِعِلْمِ النَّاسِ بِسُوْءِ حَالِهِ وَلاَ بِاطِّلاَعِهِمْ عَلَيْهِ بَلْ كَثِيْرٌ مِنْهُمْ يُخْبِرُ عَنْ حَالِهِ وَقَبْحِ مَا يَفْعَلُهُ وَالْحَامِلُ عَلَى ذَلِكَ اِنْسِلاَخُهُ مِنَ الْحَيَاءِ وَإِذَا وَصَلَ الْعَبْدُ إِلَى هَذِهِ الحَالَةِ لَمْ يَبْقَ فِي صَلاَحِهِ مَطْمَعٌ</a></p>
<p>Maksudnya, dosa-dosa akan melemahkan rasa malu seorang hamba, bahkan bisa menghilangkannya secara keseluruhan. Akibatnya, pelakunya tidak lagi terpengaruh atau merasa risih saat banyak orang mengetahui kondisi dan perilakunya yang buruk. Lebih parah lagi, banyak di antara mereka yang menceritakan keburukannya. Semua ini disebabkan hilangnya rasa malu. Jika seseorang sudah sampai pada kondisi tersebut, tidak dapat diharapkan lagi kebaikannya.</p>
<p>(<a class="arab">اَلْجَوَابُ الْكَافِي لِمَنْ سَأَلَ عَنِ الدَّوَاءِ الشَّافِي</a>, hal. 45)</p>
<p>Akhirnya, saya akhiri risalah ini dengan mengutip lagi perkataan Ibnul Qayyim</p>
<p><a class="arab">وَمَنِ اسْتَحْيَ مِنَ اللهِ عِنْدَ مَعْصِيَّتِهِ اِسْتَحَى اللهُ مِنْ عُقُوْبَتِهِ يَوْمَ يَلْقَاهُ وَمَنْ لَمْ يَسْتَحِ مِنَ اللهِ تَعَالَى مِنْ مَعْصِيَّتِهِ لَمْ يَسْتَحِ اللهُ مِنْ عُقُوْبَتِهِ</a></p>
<p>Barangsiapa malu terhadap Allah saat mendurhakaiNya, niscaya Allah akan malu menghukumnya pada hari pertemuan dengan-Nya. Demikian pula, barangsiapa tidak malu mendurhakaiNya, niscaya Dia tidak malu untuk menghukumnya.</p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<ul>
<li> Kitab <a class="arab">اَلْجَوَابُ الْكَافِي لِمَنْ سَأَلَ عَنِ الدَّوَاءِ الشَّافِي</a> yang juga dikenal dengan nama <a class="arab">اَلدَّاءُ وَالدَّوَاءُ</a>, karya <a class="arab">مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ أَيُّوْبُ اَلزُّرْعِي أَبُوْ عَبْدِ اللهِ</a> (yang dikenal dengan nama Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah). Penerbit: <a class="arab">دَارُ الْكُتُبِ الْعِلْمِيَّةِ – بِيْرُوْتُ</a> (via software <a class="arab">اَلْمَكْتَبَةُ الشَّامِلَةُ</a>).</li>
</ul>
<p>Sumber: http://studyarabic.blog.ugm.ac.id/ dengan pengharakatan dari tim <a href="http://badaronline.com/">Badar Online</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://badaronline.com/artikel/rahasia-dibalik-kata-al-hayaa-malu-dalam-bahasa-arab.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Launching Aplikasi &#8220;Praktis Belajar Bahasa Arab Dasar Dari NOL&#8221; Seri 3</title>
		<link>http://badaronline.com/dari-redaksi/launching-aplikasi-praktis-belajar-bahasa-arab-dasar-dari-nol-seri-3.html</link>
		<comments>http://badaronline.com/dari-redaksi/launching-aplikasi-praktis-belajar-bahasa-arab-dasar-dari-nol-seri-3.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Apr 2010 08:39:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Arabuna]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://badaronline.com/?p=930</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, akhirnya seri 3 dari  software bahasa arab dasar bisa diluncurkan…
Ini adalah seri terakhir dari paket pembelajaran bahasa arab dasar yang diambil dari web ini,  pembahasan seri 3 ini di mulai dari pembahasan manshubatul asma dan majrurotul asma.
Setelah pelajaran ini insyaAllah akan dibuat pelajaran-pelajaran lainnya yaitu pelajaran bahasa arab menengah, lanjutan, juga shorof [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, akhirnya seri 3 dari  software bahasa arab dasar bisa diluncurkan…<br />
Ini adalah seri terakhir dari paket pembelajaran bahasa arab dasar yang diambil dari web ini,  pembahasan seri 3 ini di mulai dari pembahasan manshubatul asma dan majrurotul asma.</p>
<p>Setelah pelajaran ini insyaAllah akan dibuat pelajaran-pelajaran lainnya yaitu pelajaran bahasa arab menengah, lanjutan, juga shorof dan muhadatsah. Semoga dimudahkan dalam prosesnya.</p>
<p>Semoga bermanfaat…</p>
<p><span id="more-930"></span></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://toko-muslim.com/images/product/ap001c-besar.jpg" alt="Software  Belajar Bahasa Arab Dari Nol" align="left" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://toko-muslim.com/images/product/ap001c-1.jpg" alt="Software  Belajar Bahasa Arab Dari Nol" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://toko-muslim.com/images/product/ap001c-2.jpg" alt="Software  Belajar Bahasa Arab Dari Nol" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://toko-muslim.com/images/product/ap001c-3.jpg" alt="Software  Belajar Bahasa Arab Dari Nol" /></p>
<p>Detail info bisa dilihat di:<br />
<a href="http://arabuna.com/2009/05/10/arabuna-interaktif-praktis-belajar-bahasa-arab-dari-nol/">Launching  Aplikasi “Praktis!! Belajar Bahasa Arab Dari NOL”</a></p>
<p>Pemesanan bisa dilakukan melalui:<br />
<a href="http://toko-muslim.com/tag/arabuna">Toko  Muslim</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://badaronline.com/dari-redaksi/launching-aplikasi-praktis-belajar-bahasa-arab-dasar-dari-nol-seri-3.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kajian Bahasa Arab Di RadioMuslim.Com</title>
		<link>http://badaronline.com/dari-redaksi/kajian-bahasa-arab-di-radiomuslim-com.html</link>
		<comments>http://badaronline.com/dari-redaksi/kajian-bahasa-arab-di-radiomuslim-com.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 07:26:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://badaronline.com/?p=923</guid>
		<description><![CDATA[Pengunjung Website Badar Online yang dimuliakan oleh Allah, saudara sekalian dapat juga mendengarkan pelajaran bahasa arab dasar pada program acara baru di http://radiomuslim.com, Insya Allah pelajaran akan dilakukan pada:
1. Siaran Langsung Belajar Bahasa Arab Percakapan
Setiap Hari Rabu Pkl. 13.00 WIB
Bersama Ustadz Ihsan hafizhahullahu ta&#8217;ala
Referensi Kitab Rujukan: Durushu Lughah Al Arabiyah
2. Siaran Langsung Belajar Bahasa Arab [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengunjung Website Badar Online yang dimuliakan oleh Allah, saudara sekalian dapat juga mendengarkan pelajaran bahasa arab dasar pada program acara baru di <a href="http://radiomuslim.com/" target="_blank">http://radiomuslim.com</a>, Insya Allah pelajaran akan dilakukan pada:</p>
<p>1. Siaran Langsung Belajar Bahasa Arab Percakapan<br />
Setiap Hari Rabu Pkl. 13.00 WIB<br />
Bersama Ustadz Ihsan <em>hafizhahullahu ta&#8217;ala</em><br />
Referensi Kitab Rujukan: Durushu Lughah Al Arabiyah</p>
<p>2. Siaran Langsung Belajar Bahasa Arab Ilmu Nahwu<br />
Setiap Hari Rabu Pkl. 20.00 WIB<br />
Bersama Ustadz Hamdan <em>hafizhahullahu ta&#8217;ala</em><br />
Referensi Buku Rujukan diambil dari situs http://badaronline.com</p>
<p>Tanya Jawab dapat melalui ID YM kajian_jogja, atau kotak Pingbox di web atau melalui pesan singkat di no 081 3924 255 27.</p>
<p>Pelajaran nahwu mengadopsi meteri pelajaran dari web ini, karena pemateri berbeda tentu pengunjung sekalian bisa memperoleh lebih banyak faidah dari pelajaran-pelajaran tersebut disamping pelajaran dasar pada web ini.</p>
<p>Silahkan beritahukan Sahabat Muslim lainnya, Semoga bermanfaat&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://badaronline.com/dari-redaksi/kajian-bahasa-arab-di-radiomuslim-com.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menilik Makna Yang Benar Dari &#8220;Laa Ilaaha Illallah&#8221; Dengan Kaidah Bahasa Arab</title>
		<link>http://badaronline.com/artikel/menilik-makna-yang-benar-dari-laa-ilaaha-illallah-dengan-kaidah-bahasa-arab.html</link>
		<comments>http://badaronline.com/artikel/menilik-makna-yang-benar-dari-laa-ilaaha-illallah-dengan-kaidah-bahasa-arab.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Apr 2010 03:30:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://badaronline.com/?p=926</guid>
		<description><![CDATA[Menilik Makna Yang Benar Dari &#8220;Laa Ilaaha Illallah&#8221; Dengan Kaidah Bahasa Arab [1]
Sebagaimana masyhur di kalangan masyarakat muslim Indonesia, bahwa kalimat tauhid laa ilaaha illallah (لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ) diartikan dengan &#8220;tiada Tuhan selain Allah&#8221;. Namun, benarkah terjemahan kalimat tauhid tersebut?
Pembaca yang semoga Allah Ta&#8217;ala merahmati Anda, tentunya  kita tahu bahwa kalimat tauhid tersebut adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menilik Makna Yang Benar Dari &#8220;Laa Ilaaha Illallah&#8221; Dengan Kaidah Bahasa Arab [1]</p>
<p>Sebagaimana masyhur di kalangan masyarakat muslim Indonesia, bahwa kalimat tauhid <em>laa ilaaha illallah</em> (<a class="arab">لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ</a>) diartikan dengan &#8220;tiada Tuhan selain Allah&#8221;. Namun, benarkah terjemahan kalimat tauhid tersebut?</p>
<p>Pembaca yang semoga Allah <em>Ta&#8217;ala</em> merahmati Anda, tentunya  kita tahu bahwa kalimat tauhid tersebut adalah kalimat dalam bahasa  Arab. Ketahuilah, pemahaman yang benar tentang kalimat <em>laa ilaaha illallah</em> tergantung pada benarnya pemahaman kita terhadap asal kalimat ini yaitu  dari sisi bahasa Arab. Oleh karena itu, jika kita ingin mengetahui  terjemahan dan makna yang benar dari kalimat tersebut, mau tidak mau kita harus menggunakan kaidah-kaidah bahasa Arab.</p>
<p><span id="more-926"></span>Mari kita lihat bagaimanakah terjemahan dan makna yang benar dari kalimat <em>laa ilaaha illallah</em>. <em>I&#8217;rob</em> kata <em>laa ilaaha illallah</em> yaitu:</p>
<p><a class="arab">لاَ: لاَ النَّافِيَةُ لِلْجِنْسِ تَعْمَلُ عَمَلَ إنَّ وَهِيَ تَنْصِبُ الإِسْمَ وَتَرْفَعُ الْخَبَرَ</a></p>
<p><em>Laa</em>: <em>laa naafiyah liljinsi</em> (menafikan semua jenis) beramalan <em>inna</em> yaitu me<em>manshub</em>kan <em>isim</em>nya dan me<em>marfu&#8217;</em>kan <em>khobar</em>nya.</p>
<p><a class="arab">إِلهَ: اِسْمَ لاَ مَبْنِيٌّ عَلَى الْفَتْحِ فِي مَحَلِّ نَصْبٍ</a></p>
<p><em>Ilaah</em>: <em>isim</em> <em>laa</em> yang <em>mabni </em>(tetap) atas <em>fathah</em>, menempati kedudukan <em>nashob</em>.[2]</p>
<p>Asal kata &#8220;ilaah&#8221; adalah dari kata <em>alaha</em> (<a class="arab">أَلَهَ</a>) yang bersinonim dengan kata <em>&#8216;abada</em> (عَبَدَ) yang artinya menyembah/beribadah, <em>wazan</em>nya <em>fa&#8217;ala-yaf&#8217;alu</em> (<a class="arab">فَعَلَ – يَفْعَلُ</a>) sehingga <em>tashrif isthilahi</em>nya menjadi <em>alaha-ya&#8217;lahu-ilaahan</em> (<a class="arab">أَلَهَ – يَعْلَهُ – إِلاهًا</a>). &#8220;<em>Ilaah&#8221;</em> adalah <em>isim mashdar</em>, yaitu kata yang menunjukkan atas suatu makna yang tidak terikat oleh waktu, dan <em>mashdar</em> adalah asal dari <em>fi&#8217;il</em> (kata kerja) dan asal dari semua <em>isim musytaq</em> (kata jadian).[3] <em>Isim mashdar</em> terkadang dapat bermakna <em>fa&#8217;il</em> (subjek/yang melakukan suatu perbuatan) dan dapat bermakna <em>maf&#8217;ul bih</em> (objek/yang dikenai suatu perbuatan). Berikut ini contoh suatu <em>mashdar </em>yang dapat bermakna <em>fa&#8217;il</em> dan dapat bermakna <em>maf&#8217;ul bih</em>, diambil dari hadits riwayat Muslim tentang larangan berbuat bid&#8217;ah: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><a class="arab">مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</a></p>
<p>&#8220;<em>Man &#8216;amila &#8216;amalan laisa &#8216;alaihi amruna fahuwa roddun</em>&#8220;.</p>
<p>Kata &#8220;<em>roddun</em>&#8221; (<a class="arab">رَدٌّ</a>) adalah <em>mashdar</em>. Terdapat beberapa penjelasan ulama tentang apakah makna &#8220;<em>roddun</em>&#8221; di sini. Sebagian ulama menjelaskan bahwasanya <em>mashdar</em> &#8220;<em>roddun</em>&#8221; di sini bermakna <em>fa&#8217;il</em>, yaitu &#8220;<em>rooddun</em>&#8221; (رَادٌّ) yang artinya &#8220;orang yang menolak&#8221;. Sehingga makna hadits menjadi <em>&#8220;Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami maka <strong>dia adalah orang yang menolak</strong>.&#8221;</em> Maksudnya adalah menolak syari&#8217;at Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Sedangkan ulama yang lain memaknai &#8220;<em>roddun</em>&#8221; dengan makna <em>maf&#8217;ul bih</em>, yaitu &#8220;<em>marduudun</em>&#8221; (<a class="arab">مَرْدُوْدٌ</a>) yang artinya &#8220;sesuatu yang ditolak&#8221;. Sehingga makna hadits menjadi <em>&#8220;Barangsiapa siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami maka <strong>amal itu ditolak</strong>.&#8221;</em> Maksudnya adalah amalan tersebut tidak diterima oleh Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> karena tidak memenuhi syarat diterimanya amal [4].</p>
<p>Kemudian kembali ke &#8220;<em>ilaah</em>&#8220;, apakah &#8220;<em>ilaah</em>&#8221; dalam kalimat tauhid bermakna <em>fa&#8217;il</em> atau <em>maf&#8217;ul bih</em>?</p>
<p>Kata &#8220;<em>ilaah</em>&#8221; di sini ada yang mengartikannya sebagai <em>mashdar</em> bermakna <em>fa&#8217;il</em>, dan ini adalah <strong>makna yang keliru</strong> yang didukung dengan bukti-bukti yang sangat banyak yang membantah kekeliruan makna tersebut. Ada yang memaknai &#8220;<em>ilaah</em>&#8221; dengan makna <em>maf&#8217;ul bih</em>, dan inilah <strong>makna yang benar. </strong>Mengapa demikian? Mari kita lihat makna &#8220;<em>ilaah</em>&#8221; sebagai <em>fail</em> dan sebagai <em>maf&#8217;ul bih</em>, sehingga kita tahu makna yang benar.</p>
<p>Yang memaknai &#8220;<em>ilaah</em>&#8221; dengan makna <a href="http://badaronline.com/dasar/bahasa-arab-dasar-42-fail.html" target="_blank">fa&#8217;il</a> mengatakan bahwa yang dimaksud dengan &#8220;<em>laa ilaaha illallah</em>&#8221; adalah &#8220;<em>laa khooliqo illallah</em>&#8221; (<a class="arab">لَا خَالِقَ إِلَّا اللهُ</a>) yaitu &#8220;tidak ada pencipta selain Allah&#8221; atau &#8220;<em>laa robba illallah</em>&#8221; (<a class="arab">لَا رَبَّ إِلَّا اللهُ</a>) yaitu &#8220;tidak ada pengatur alam semesta selain Allah&#8221; atau &#8220;<em>laa rooziqo illallah</em>&#8221; (<a class="arab">لَا رَازِقَ إِلَّا اللهُ</a>) yaitu &#8220;tidak ada pemberi rizki selain Allah&#8221; dan makna-makna yang lain yang merupakan makna <em>rububiyyah</em>[5]. Ini adalah makna yang sangat bathil, karena kalau &#8220;<em>ilaah</em>&#8221; di sini dimaknai sebagai <em>fa&#8217;il</em> maka makna seperti ini telah diyakini dan disetujui oleh kaum musyrikin Arab pada zaman Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi</em> <em>wa sallam</em>. Kaum musyrikin Arab meyakini  bahwa yang menciptakan, yang memberi rizki, dan yang mengatur urusan alam semesta dan sisi-sisi <em>rububiyyah</em> yang lain adalah Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Banyak ayat Al Qur&#8217;an yang menunjukkan bahwa orang-orang musyrikin Arab itu beriman kepada <em>rububiyyah</em> Allah <em>Subhanahu wa</em> <em>Ta&#8217;ala</em>, di antaranya:</p>
<p><a class="arab">وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ</a></p>
<p><em>&#8220;Dan sungguh jika engkau tanyakan kepada mereka, &#8220;Siapakah yang  menciptakan langit dan bumi?&#8221; Tentu mereka akan menjawab, &#8220;Allah&#8221;…&#8221; </em>(QS. Luqman:25)</p>
<p><a class="arab">قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ  وَالأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ والأَبْصَارَ وَمَنيُخْرِجُ  الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن  يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَاللّهُ فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ</a></p>
<p><em>&#8220;Katakanlah, &#8220;Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit  dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan  penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati,  dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur  segala urusan?&#8221; Maka mereka akan menjawab, &#8220;Allah.&#8221; Maka katakanlah,  &#8220;Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?&#8221;</em> (QS. Yunus: 31)</p>
<p>Akan tetapi pengakuan tersebut tidaklah memasukkan mereka ke dalam agama Islam. Buktinya, Rasulullah <em>shallallahu</em> <em>&#8216;alaihi wa sallam</em> tetap memerangi mereka, menghalalkan harta dan darah mereka. Sehingga kalau &#8220;<em>ilaah</em>&#8221; ini dimaknai dengan <em>fa&#8217;il</em> maka konsekuensinya kaum musyrikin Arab adalah orang-orang muslim.  Namun, tidaklah demikian. Mengapa? Karena mereka hanya beriman kepada  sifat-sifat <em>rububiyyah</em> saja, tetapi mereka menyekutukan Allah dalam beribadah.</p>
<p>Oleh karena itu makna yang benar untuk &#8220;<em>ilaah</em>&#8221; adalah <em>mashdar</em> bermakna <em>maf&#8217;ul bih</em>, &#8220;<em>ilaah</em>&#8221; bermakna &#8220;<em>ma&#8217;luuh</em>&#8221; (مَأْلُوْهٌ) atau sinonimnya yaitu &#8220;<em>ma&#8217;buud</em>&#8221; (مَعْبُوْدٌ) yang artinya adalah &#8220;sesuatu yang disembah/diibadahi&#8221;. Sehingga makna &#8220;<em>laa ilaaha</em>&#8221; adalah &#8220;<em>laa ma&#8217;buuda</em>&#8220;.</p>
<p>Tadi disebutkan bahwa <em>laa</em> beramalan me<em>manshub</em>kan <em>isim</em>nya dan me<em>marfu&#8217;</em>kan <em>khobar</em>nya. Lantas, di mana <em>khobar</em> dari <em>laa</em>?</p>
<p><a class="arab">وَخَبَرُ لاَ مَحْذُوْفٌ تَقْدِيْرُهُ حَقٌ أَوْ بِحَقٍّ</a></p>
<p><a href="http://badaronline.com/dasar/bahasa-arab-dasar-61-saudara-saudara-inna.html" target="_blank">Khobar laa</a> dibuang <em>(mahdzuuf)</em>, dan takdirnya adalah &#8220;<em>haqqun</em>&#8221; atau &#8220;<em>bihaqqin</em>&#8220;.</p>
<p>Mengapa <em>khobar laa</em> dibuang? Suatu kata boleh dibuang jika  makna kalimat sudah dapat diketahui meskipun ada kata yang dibuang dari  kalimat tersebut. Saya ambilkan contoh dalam bahasa Indonesia agar  lebih mudah dimengerti. Misalkan ada orang yang bertanya, &#8220;Siapa  Nabimu?&#8221; maka jawabannya adalah &#8220;Muhammad&#8221;. Di sini tentu sudah  diketahui maksud dari jawaban yang sangat ringkas tersebut, yang hanya  terdiri dari satu kata &#8220;Muhammad&#8221; saja, yang mana kalimat lengkapnya  yaitu &#8220;Nabi saya adalah Muhammad.&#8221; Meskipun ringkas tetapi kita dapat  menangkap maksud dari kalimat tersebut. Suatu kalimat yang ringkas tetapi dapat dipahami maknanya tentu lebih efisien daripada kalimat yang panjang. Nah, demikian juga dalam bahasa Arab. Maka <em>khobar</em> <em>laa</em> pada kalimat tauhid dibuang karena orang-orang Arab pada zaman Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sudah dapat memahami maknanya, karena mereka adalah orang-orang yang  fasih dalam bahasa Arab. Oleh karena itu pulalah orang-orang musyrik  Arab zaman dulu tidak mau mengucapkan kalimat <em>laa ilaaha illallah</em> meskipun mereka mengakui bahwa Allah adalah <em>robb</em> mereka, karena mereka paham akan makna dan konsekuensi dari kalimat tauhid tersebut.</p>
<p>Sebagian orang mentakdirkan bahwa <em>khobar</em> <em>laa</em> yang dibuang itu takdirnya adalah &#8220;<em>maujuudun</em>&#8221; (<a class="arab">مَوْجُوْدٌ</a>) yang artinya &#8220;ada&#8221;, sehingga mereka memaknai &#8220;<em>laa ilaaha illallah</em>&#8221; dengan &#8220;<em>laa ilaaha maujuudun illallahu</em>&#8221;  (<a class="arab">لَا إِلهَ مَوْجُوْدٌ إِلَّا اللهُ</a>) artinya &#8220;tidak ada sesembahan yang  ada kecuali Allah&#8221;. Jika demikian maka ada beberapa konsekuensi yang  fatal, di antaranya adalah:</p>
<ol>
<li>Kalau <em>khobar laa</em> yang dibuang ditakdirkan dengan &#8220;<em>maujuudun</em>&#8221;  maka hal ini tidaklah sesuai dengan realita yang sesungguhnya. Karena  realita menunjukkan bahwasanya selain Allah masih banyak sesembahan  yang lain. Ada orang yang menyembah matahari dan bulan, ada yang  menyembah orang shalih, malaikat, patung, dewa, dan sebagainya.</li>
<li>Kalau dimaknai dengan &#8220;<em>laa ilaaha maujuudun illallah</em>&#8221; maka  konsekuensinya semua sesembahan yang ada di dunia ini pada hakikatnya  adalah Allah. Contoh: karena patung berhala adalah sesembahan kaum  musyrikin Arab dulu maka patung berhala adalah Allah, karena Yesus  adalah sesembahan kaum Nasrani maka Yesus adalah Allah, karena &#8216;Uzair  adalah sesembahan Yahudi maka &#8216;Uzair adalah Allah, karena dewa-dewa  adalah sesembahan orang Hindu maka dewa-dewa adalah Allah. <strong>Tentunya  tidak demikian bukan?</strong></li>
</ol>
<p>Oleh karena itu, yang benar adalah mentakdirkan khobar laa yang dibuang dengan &#8220;<em>haqqun</em>&#8221; atau &#8220;<em>bihaqqin</em>&#8220;. Sehingga kalimat tauhid yang lengkap sebenarnya adalah</p>
<p><a class="arab">لَا إِلهَ حَقٌّ إِلَّا اللهُ</a></p>
<p><em>laa ilaaha haqqun illallahu</em></p>
<p>dan maknanya yang benar yaitu</p>
<p><a class="arab">لَا مَعْبُوْدَ حَقٌّ إِلَّا اللهُ</a></p>
<p><em>laa ma&#8217;buuda haqqun illallahu</em></p>
<p>atau</p>
<p><a class="arab">لَا مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إِلَّا اللهُ</a></p>
<p><em>laa ma&#8217;buuda bihaqqin illallahu. </em></p>
<p>Maknanya adalah <strong>&#8220;tidak ada sesembahan yang haq selain Allah&#8221;</strong> atau <strong>&#8220;tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah&#8221;</strong>.  Hanya Allah-lah satu-satunya yang berhak untuk disembah dengan benar.  Hanya kepada Allah-lah kita menujukan semua amal ibadah kita, bukan  kepada selain-Nya.</p>
<p><a class="arab">إِلاَّ: أَدَاة الإِسْتِثْنَاءِ</a></p>
<p><em>Illa</em>: alat <em>istitsna</em> (untuk mengecualikan).</p>
<p><a class="arab">لَفْظُ الْجَلاَلَةِ &#8220;اللهُ&#8221; : بَدَلٌ مِنْ خَبَرِ لاَ</a></p>
<p>Lafadz <em>jalalah</em> &#8220;Allah&#8221; sebagai <a href="http://badaronline.com/dasar/bahasa-arab-dasar-74-badal.html" target="_blank">badal</a> (pengganti) dari <em>khobar</em> <em>laa </em>yang dibuang. Karena sebagai <em>badal</em>, maka i&#8217;rob lafadz <em>jalalah </em>&#8220;Allah&#8221; adalah sesuai dengan <em>mubdal minhu</em> (yang digantikan)nya yaitu <em>khobar</em> <em>laa.</em> Ingat, <em>khobar laa</em> mempunyai <em>i&#8217;rob marfu&#8217;</em>, maka <em>badal</em>nya yakni lafadz <em>jalalah</em> &#8220;Allah&#8221; juga ikut <em>marfu&#8217;</em>, yang mana lafadz <em>jalalah</em> &#8220;Allah&#8221; ini adalah <em>isim mufrod</em> (kata tunggal) yang <em>marfu&#8217;</em> dengan tanda <em>dhommah</em> sehingga berbunyi &#8220;Allahu&#8221;.</p>
<p>Antara <em>badal </em>dengan <em>mubdal minhu</em> bendanya adalah sama. Maka <em>khobar laa</em> yaitu &#8220;<em>haqqun</em>&#8221; digantikan dengan &#8220;Allah&#8221; menunjukkan bahwa <strong>yang haq itu ialah Allah</strong>, <strong>Allah itulah yang haq</strong>.</p>
<p><a class="arab">ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنََّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ الْبَاطِلُ وَأَنََّ اللَّهَ هُوَالْعَلِيُّ الْكَبِيرُ</a></p>
<p><em>&#8220;Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq, dan  apa saja yang mereka seru selain Allah adalah bathil. Dan sesungguhnya  Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.&#8221;</em> (QS. Luqman: 30)</p>
<p>Demikianlah, semoga apa yang kami sampaikan dapat membantu kita  dalam memahami kalimat tauhid yang sangat agung ini. Betapa suatu  kenikmatan yang sangat besar jika kita dapat memahami makna kalimat <em>laa ilaaha illallah</em> dan mengamalkannya, sehingga berbuah surga-Nya. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><a class="arab">مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ</a></p>
<p><em>&#8220;Barang siapa yang mati dalam keadaan dia mengilmui  bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain  Allah, maka dia akan masuk surga.&#8221;</em>[6]</p>
<p><em>Alhamdulillahilladzi bini&#8217;matihi tatimmush sholihat.</em></p>
<p><em>Wal &#8216;ilmu &#8216;indallaah</em></p>
<p>Selesai disusun di wisma ceRIa, 12 April 2010 pukul 3:13 a.m.</p>
<p>Yang selalu membutuhkan ampunan dari Rabb-nya</p>
<hr size="1" />[1] Kami mendapatkan faidah yang agung ini dari Ust. M. Saifuddin Hakim <em>hafizhohullah</em> pada saat pelajaran baca kitab &#8220;<em>Minhaj Al-Firqotu An-Najiyah wa Ath-Thoifatu Al-Manshuroh</em>&#8221; Ma&#8217;had al-&#8217;Ilmi Akhowat.</p>
<p>[2] Karena &#8220;<em>ilaah</em>&#8221; adalah <em>isim nakiroh mufrod</em> dan bukan <em>mudhof </em>atau <em>syibhul mudhof</em>, maka hukumnya sebagai <em>isim laa</em> adalah <em>mabni</em> atas tanda <em>nashob</em>nya, yaitu <em>fathah</em>.</p>
<p>[3] Lihat <em>Mulakhkhosh Qowa&#8217;idu Al-Lughoti Al-&#8217;Arobiyyati</em> (1/30-31)</p>
<p>[4] Syarat diterimanya amal adalah ikhlas dan <em>ittiba&#8217;</em> (mengikuti tata cara yang dituntunkan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>). Adapun pada hadits ini, amalan tersebut ditolak karena tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Penjelasan lebih lengkap bisa dilihat di <em>Syarah Hadits Arba&#8217;in</em>. <em>Wallahu a&#8217;lam.</em></p>
<p>[5] Yang berkaitan dengan perbuatan Allah seperti mencipta, mengatur alam semesta, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, dll.</p>
<p>[6] HR. Muslim (26), Ahmad (464), An Nasa&#8217;I dalam &#8220;<em>Al Kubra</em>&#8221; (109252), Al Bazzar (4150, dan Ibnu Hibban (201).</p>
<p>Sumber: http://pengenkemadinah.wordpress.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://badaronline.com/artikel/menilik-makna-yang-benar-dari-laa-ilaaha-illallah-dengan-kaidah-bahasa-arab.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Empat Jenis &#8216;Athof dalam Al Qur&#8217;an dan Sunnah</title>
		<link>http://badaronline.com/artikel/empat-jenis-athof-dalam-al-quran-dan-sunnah.html</link>
		<comments>http://badaronline.com/artikel/empat-jenis-athof-dalam-al-quran-dan-sunnah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Mar 2010 02:28:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Athof]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://badaronline.com/?p=917</guid>
		<description><![CDATA[بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Empat Jenis &#8216;Athof dalam Al Qur&#8217;an dan Sunnah
Pembaca yang semoga dimuliakan Allah subhanahu wa ta&#8217;ala pada  kesempatan kali ini kita akan kembali mencoba menggali kaidah-kaidah  ushul/dasar yang disampaikan para ulama untuk memamahi Al Qur&#8217;an dan  Sunnah secara benar. Diantara kaidah yang disampaikan oleh para ulama  adalah kaidah dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a class="arab1">بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ</a></p>
<p><strong>Empat Jenis &#8216;Athof dalam Al Qur&#8217;an dan Sunnah</strong></p>
<p>Pembaca yang semoga dimuliakan Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala </em>pada  kesempatan kali ini kita akan kembali mencoba menggali kaidah-kaidah  ushul/dasar yang disampaikan para ulama untuk memamahi Al Qur&#8217;an dan  Sunnah secara benar. Diantara kaidah yang disampaikan oleh para ulama  adalah kaidah dalam memahami &#8216;athof dalam nash syari&#8217;at. <strong>Syaikhul Islam  Ibnu Taimiyah</strong> menyampaikan ada <strong>4 jenis athof</strong> dalam Al Qur&#8217;an dan sunnah [1],</p>
<p><strong>[1]. Athof Dua Kata Atau Lebih yang Berbeda Maknanya.</strong></p>
<p>Athof jenis ini merupakan athof yang paling tinggi derajatnya karena  menggandengkan 2 hal yang berbeda dalam artian makna satu kata (&#8216;athof)  tidak sama dengan makna kata yang lain (ma&#8217;thuf &#8216;alaih/kata yang  di&#8217;athofkan padanya). Contohnya adalah firman Allah <em>&#8216;azza wa jalla,</em></p>
<p><a class="arab">الََّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ</a></p>
<p><em>&#8220;Dzat Yang Menciptakan <strong>langit</strong> dan <strong>bumi</strong>&#8220;. </em>(QS.  Al Furqon  [25]: 59).</p>
<p><span id="more-917"></span>Maka berarti bahwa (<a class="arab">السَّمَاوَاتِ</a>) langit bukanlah (<a class="arab">الْأَرْضَ</a>)  bumi. Contoh yang lain adalah firman Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala,</em></p>
<p><a class="arab">أَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ</a></p>
<p><em>&#8220;Dzat Yang Menurunkan <strong>Taurot</strong> dan <strong>Injil</strong>&#8220;. </em>(QS: Ali &#8216;Imron  [3]: 3).</p>
<p>Sehingga (<a class="arab">التَّوْرَاةَ</a>) taurot bukanlah (<a class="arab">الْإِنْجِيلَ</a>)  Injil demikian sebaliknya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rohimahullah </em>mengatakan, &#8221; &#8216;Athof jenis pertama inilah yang paling banyak  (dalam Al Qur&#8217;an dan Sunnah pent.)&#8221;.</p>
<p><strong>[2]. Athof Dua Atau Lebih yang Memiliki Hubungan Keterkaitan  yang Erat.</strong></p>
<p>Contoh &#8216;athof jenis ke dua ini adalah firman Allah <em>Subhanahu wa  Ta&#8217;ala</em>,</p>
<p><a class="arab">وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ</a></p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang ingkar/kufur <strong>terhadap Allah</strong>, <strong>Malaikat-MalaikatNya</strong>, <strong>Kitab-KitabNya</strong>, <strong>Para UtusanNya</strong> dan <strong>Hari Akhir</strong>&#8220;. </em>(QS: An Nisa&#8217;  [4]: 136).</p>
<p>Maka dengan mengetahui athof jenis ini kita bisa simpulkan bahwa  barangsiapa yang ingkar/kufur terhadap Allah maka sungguh ia telah  ingkar/kufur kepada kata yang setelahnya yaitu  Malaikat-MalaikatNya,  Kitab-KitabNya, Para UtusanNya dan Hari Akhir. Contoh lainnya adalah  firman Allah <em>&#8216;azza wa jalla,</em></p>
<p><a class="arab">وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ  بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِين</a></p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang <strong>menentang Rosul</strong> setelah jelas baginya petunjuk dan <strong>mengikuti selain jalan orang-orang mukmin [2]</strong>&#8220;. </em>(QS: An Nisa&#8217;  [4]: 115).</p>
<p>Maka berdasarkan kaidah yang amat agung ini kita dapat mengambil  kesimpulan yang amat penting pula bahwa barangsiapa yang menentang Nabi <em>shallallahu  &#8216;alaihi was sallam </em>(baik itu apa yang beliau perintahkan atau yang  beliau larang pent.) maka berarti ia telah keluar  jalannya para sahabat <em>rodhiyallahu &#8216;anhum</em>. Syaikhul Islam Ibnu  Taimiyah mengatakan, &#8220;Para &#8216;ulama mengatakan,</p>
<p><strong>&#8220;Barangsiapa yang tidak mengkuti  jalan para sahabat maka berarti ia telah mengikuti jalan selain mereka,  mereka (para ulama) menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa mengikuti  jalan beragama para sahabat adalah sebuah perkara wajib dan tidaklah  boleh seseorang keluar dari perkara agama yang mereka ijma&#8217;/sepakat  terhadapnya&#8221;</strong> [3].</p>
<p>Contoh berharga lainnya adalah firman Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala,</em></p>
<p><a class="arab">وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ</a></p>
<p><em>&#8220;Janganlah kalian <strong>mencampurkan antara kebenaran dan  kebathilan</strong> dan <strong>menyembunyikan kebenaran</strong> padahal kalian  telah mengetahuinya&#8221;. </em>(QS: Al Baqoroh  [2]: 42).</p>
<p>Dari ayat yang mulia dan kaidah ini maka kita dapat menyimpulkan  bahwa barangsiapa yang mencampur adukkan antara kebenaran dan  kebathilan maka ia akan menyembunyikan kebenaran sebanding dengan apa  yang ia lakukan berupa pencampur adukan antara kebenaran dan  kebathilan. Sehingga demikianlah apa yang telah dilakukan oleh ahlu  kitab (yahudi dan nashrani) mereka menyembunyikan kebenaran yang datang  dari Allah maka pastilah mereka telah menampakkan kebathilan sebanding  dengan apa yang mereka sembunyikan berupa kebenaran. Misalnya mereka  menggati/menyembunyikan hukum Allah untuk mereka bagi pelaku zina baik  yang sudah menikah atau belum adalah dirajam (dilempari dengan batu  hingga mati) dengan mencoret-coret wajahnya kemudian di arak keliling  perkampungan. Demikian juga barangsiapa yang melakukan bid&#8217;ah dan  mendakwahkannya maka berarti ia telah menyembunyikan sunnah yang  sebanding dengan bid&#8217;ah yang ia kerjakan dan dakwahkan, sampai-sampai  seorang tabi&#8217;in <strong>Hasan bin Athiyah</strong> mengatakan,</p>
<p><a class="arab">مَا أَحْدَثَ قَوْمٌ بِدْعَةً  إِلاََّ رُفِعَ مِثْلُهَا مِنَ السُّنَّةِ</a></p>
<p><em>&#8220;Tidaklah suatu kaum mengadakan  suatu kebid&#8217;ahan kecuali akan hilang sunnah (Nabi shallallahu &#8216;alaihi  was sallam pent.) yang semisal dengan bid&#8217;ah tersebut&#8221;.[4]</em></p>
<p>Maka lihatlah wahai saudaraku betapa mengerikannya betapa buruknya  bid&#8217;ah dan dampaknya di mata generasi utama dalam ummat ini.</p>
<p><strong>[3]. Athof Dua Kata Atau Lebih yang Salah Satunya Merupakan  Bagian yang Lain.</strong></p>
<p>Contoh penerapan kaidah ini sebagaimana firman Allah <em>&#8216;azza wa  jalla,</em></p>
<p><a class="arab">حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاَةِ الْوُسْطَى</a></p>
<p><em>&#8220;Jagalah <strong>Sholat Lima Waktu[5]</strong> dan <strong>Sholat  Pertengahan (yaitu sholat Ashar) [6]</strong>&#8220;. (QS:  Al Baqoroh  [2]: 238).</em></p>
<p>Maka dalam ayat ini Allah athofkan sholat ashar kepada sholat lima  waktu bersamaan dengan itu dalam kata-kata sholat ashar telah masuk  dalam sholat lima waktu. Syaikh Muhammad bin Sholeh Al &#8216;Utsaimin  mengatakan, &#8220;Hal tersebut menunjukkan keutamaan sholat ashar  dibandingkan sholat yang lain karena Allah sebutkan secara khusus  setelah Allah sebutkan secara umum dengan kata sholat lima waktu&#8221; [7].</p>
<p>Demikian juga dalam firman Allah <em>Subahanahu wa Ta&#8217;ala,</em></p>
<p><a class="arab">وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّيْنَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ</a></p>
<p><em>&#8220;Ketika Kami (Allah) mengambil  perjanjian kalian <strong>[8]</strong> dari <strong>para Nabi</strong>,  dari <strong>dirimu wahai  Muhammad</strong>, dari <strong>Nuh</strong>, dari <strong>Ibrohim</strong>, dari <strong>Musa</strong> dan dari <strong>&#8216;Isa bin Maryam</strong>&#8220;. (QS:  Al Ahzab  [33]: 7).</em></p>
<p>Dalam ayat ini Allah sebutkan Nabi Muhammad <em>shollallahu &#8216;alaihi  was sallam</em>, Nabi Nuh, Nabi Ibrohim, Nabi Musa dan Nabi &#8216;Isa <em>&#8216;alaihimussalam </em>padahal mereka telah masuk dalam kata-kata para Nabi hal ini  menunjukkan keutamaan mereka yang merupakan Rosul Ulul Azmi.</p>
<p><strong>[4]. Athof Dua Kata Atau Lebih Karena Adanya Perbedaan Shifat  Keduanya.</strong></p>
<p>Contoh penerapan kaidah ini adalah firman Allah <em>Subahanahu wa  Ta&#8217;ala,</em></p>
<p><a class="arab">سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى . الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى . وَالََّّذِي قَدَّرَ فَهَدَى . وَالََّذِي أَخْرَجَ الْمَرْعَى</a></p>
<p><em>&#8220;Sucikanlah <strong>nama Tuhanmu Yang Maha Tingi</strong></em><em>. </em><strong><em>Yang  menciptakan</em></strong><em>, dan </em><strong><em>menyempurnakan (penciptaanNya).</em><em>Yang  menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk</em></strong><em>. </em><strong><em>Yang  menumbuhkan rumput-rumputan</em></strong><em>&#8220;. (QS:  Al A&#8217;la  [87]: 1-4).</em></p>
<p>Maka Robb kita adalah Allah Yang Maha Menciptakan, Yang Maha  Meyempurnakan penciptanyaanNya, Yang Maha Menentukan kadar, Yang Maha  Memberi petunjuk, dan Yang Maha mengeluarkan rerumputan. Hal ini Allah  sebutkan sendiri karena berbedanya shifat yang terkandung di dalamnya [9].</p>
<p>Sebagai penutup kami bawakan contoh real pentingnya memahami kaidah  di atas dalam masalah aqidah agar kita tidak salah dalam memahami nash  syari&#8217;at berupa Al Qur&#8217;an dan Sunnah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi was  sallam.</em> Dalam hal ini kami ambilkan contoh diantara sebab kelirunya muji&#8217;ah  yang mengatakan amal bukan bagian dari iman, hal ini karena mereka  keliru dalam memahami ayat Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em>,</p>
<p><a class="arab">إِنَّ الََّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ</a></p>
<p><em>&#8220;</em><em>Sesungguhnya <strong>orang-orang yang beriman</strong> dan <strong>beramal sholeh</strong></em><em>&#8220;. (QS:  Al Baqoroh  [2]: 277).</em></p>
<p>Mereka mengatakan bahwa ayat di atas adalah dalil yang menunjukkan  bahwa amal badan bukanlah bagian dari iman karena Allah <em>&#8216;Azza wa  Jalla </em>membedakan  antara iman dan amal. Maka kita katakan bahwa yang tepat adalah Allah  menyebutkan iman dan amal sholeh di sini dengan kata yang berbeda  bukanlah menunjukkan bahwa amal bukanlah bagian dari iman [10] namun yang tepat adalah kita katakan bahwa Allah meng&#8217;athofkan amal  kepada iman dalam jenis athof yang kedua yaitu Athof Dua Atau Lebih  yang Memiliki Hubungan Keterkaitan yang Erat dalam artian tidaklah  dikatakan seseorang beriman jika tidak punya amalan yang wajib walaupun  hanya 1 dan yang ketiga yaitu Athof Dua Kata Atau Lebih yang Salah  Satunya Merupakan Bagian yang Lain, dalam artian bahwa iman dan amal  sholeh memiliki hubungan yang sangat erat sehinnga Syaikhul Islam Ibnu  Taimiyah mengatakan,</p>
<p>&#8220;<strong>Tidaklah dapat dibayangkan  adanya iman yang wajib di dalam hati bersamaan dengan tidak adanya  seluruh amal jawarih/badan</strong>&#8220;.</p>
<p>Dalil lain yang menunjukkan bahwa amal  merupakan bagian dari iman yaitu hadits Nabi <em>shollallahu &#8216;alaihi was  sallam</em>,</p>
<p><a class="arab">الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ  أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاََّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ  شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ</a></p>
<p><em>&#8220;<strong>Iman</strong> itu memiliki  tujuh puluh sekian cabang (yang merupakan bagian dari iman), <strong>iman  yang paling tinggi adalah ucapan Laa Ilaaha Illallah</strong>, <strong>iman  yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan</strong> dan <strong>malu merupakan bagian dari iman</strong>&#8221; <strong>[11]</strong>.</em></p>
<p>Maka hadits Nabi <em>shollallahu &#8216;alaihi was sallam </em>ini tegas  menunjukkan bahwa unsur penyusun iman adalah amal hati, amal lisan dan  amal badan. Atau dengan bahasa lain kita katakan bahwa amal merupakan  bagian dari iman. Hal ini merupakan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah  sebagaimana yang di nukilkan oleh Ibnu Abil Izz Al Hanafiy <em>rohimahullah,</em></p>
<p><a class="arab">اخْتَلَفَ النَّاسُ فِيْمَا  يَقَعَ عَلَيْهِ اسمُ &#8220;الْإِيْمَانِ&#8221;، اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا: فَذَهَبَ  مَالِكٌ وَالشَّافِعِي وَأَحْمَدُ وَاْلأَوْزَاعِي وَإِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْه وَسَائِرُ أَهْلِ الْحَدِيْثِ، وَأَهْلُ الْمَدِيْنَةِ  وِأَهْلِ الظََّاهِرِ وَجَمَاعَةٌ مِنَ الْمُتَكَلِّمِيْنَ -: إِلَى أَنَّهُ تَصْدِيْقٌ باِلْجِنَانِ، وَإِقْرَارٌ بِالْلِّسَانِ، وَعَمَلٌ  بِالْأَرْكَانِ</a>.</p>
<p><em>&#8220;Manusia (banyak orang) berselisih  pendapat mengenai makna lafadz iman dengan perselisihan yang banyak,  Imam Malik, Imam Asy Syafi&#8217;iy, Imam Ahmad, Al &#8216;Auza&#8217;iy, Ishaq bin  Rohawayh, dan seluruh Ahli Hadits, Ahlu (Pendudukpent.)  Madinah</em><em>, Ahli (Mahzabpent.) Dhohiriy, dan sebagian  dari Ahli Kalam/filsafat bahwa <strong>Iman</strong> adalah <strong>pembenaran  dengan hati</strong>,<strong> ikrardengan lisan</strong> dan <strong>amal dengan anggota badan</strong></em><em>&#8221; [12].</em></p>
<p>Maka lihatlah saudaraku betapa keyakinan/aqidah <strong>Ahlus Sunnah</strong> dibangun berdasarkan dalil yang kokoh dan pemahaman/cara pengambilan  kesimpulan yang benar. Sehingga wajarlah Abul Faroj Ibnul Jauziy <em>rohimahullah </em>menukilkan perkataan <strong>Ayyub</strong>,</p>
<p><a class="arab">إِنََّ مِنْ سَعَادَةِ الْحَدَثِ وَالْأَعْجَمِيِّ أَنْ يُوَفِّقَهُمَا اللهُ تَعَالَى لِعَالِمٍ مِنْ  أَهْلِ السُّنَّةِ</a></p>
<p><em>&#8220;</em><em>Sesungguhnya diantara  kebahagian seorang pemuda dan orang azam/bukan arab adalah Allah  tunjukkan kepada mereka berdua seorang yang mengajarkan ilmu diin/agama  dari kalangan <strong>Ahlu Sunnah</strong></em><strong><em>&#8221; <strong>[13]</strong></em><em>.</em></strong></p>
<p>Maka sudahkah kita bersyukur atas nikmat yang besar ini dengan  belajar dan mengamalkan ilmu yang kita dapat ??!!</p>
<p>Al Faaqir ilaa Maghfiroti Robbihi,</p>
<p>Aditya Budiman</p>
<hr size="1" />[1] Tulisan ini kami ringkas dan kami berikan tambahan seperlunya dari <strong>Al  Iman</strong> oleh Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah <em>rohimahullah</em> hal. 138-143, dengan takhrij hadits oleh Amirul Mukminin fil Hadits di  zaman ini Al Albani <em>rohimahullah,</em> terbitan Al Maktab Al  Islamiy, Beirut.</p>
<p>[2] Ayat ini juga merupakan dalil yang dijadikan oleh para ulama bahwa  wajib bagi setiap muslim mengikuti cara beragamanya para sahabat/salaf <em>rodhiyallahu  &#8216;anhum</em>.</p>
<p>[3] Lihat <strong>Al Iman</strong> oleh Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul  Halim bin Taimiyah <em>rohimahullah</em> hal. 139.</p>
<p>[4] Perkataan beliau ini kami dapatkan dari muhadhoroh Syaikh &#8216;Ali bin  Hasan Al Halabiy <em>hafidzahullah </em>yang berjudul &#8220;<strong>Ad Du&#8217;a  wa Atsaruhu</strong>&#8221; dalam sesi tanya jawab.</p>
<p>[5] <strong>IbnuAbbas</strong> <em>rodhiyallahu &#8216;anhu </em>mengatakan  &#8220;Jagalah wudhunya, ruku&#8217;nya, sujudnya, dan hal-hal yang wajib dalam  sholat serta waktunya&#8221;. [lihat <strong>Tanwirul Al Muqbas minTafisri  Ibni Abbas</strong> hal. 39, Asy Syamilah] termasuk dalam hal ini adalah berjama&#8217;ah di  mesjid untuk sholat lima waktu sebagaimana ini merupakan pendapat yang  benar yaitu sholat lima waktu wajib hukumnya bagi laki-laki yang telah  baligh namun pembahasan panjang lebar dalam masalah ini bukan di sini  tempatnya –wal &#8216;ilmu &#8216;indaallah-.</p>
<p>[6] Lihat sumber di atas.</p>
<p>[7] Lihat <strong>Tafsir Surat Al Baqoroh</strong> oleh Syaikh Muhammad bin  Sholeh Al &#8216;Utsaimin <em>rohimahullah </em>hal. 180/III, terbitan Dar  Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA.</p>
<p>[8] Yaitu agar menyembah/beribadah hanya kepada Allah semata dan berdakwah  kepada manusia agar beribadah hanya kepada Allah semata. [lihat <strong>Aisar  At Tafasir</strong> oleh Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairiy <em>hafidzahullah </em>hal. 187/IV, Terbitan Maktabah Al 'Ulum wal Hikaam, Madinah, KSA.]</p>
<p>[9] Lihat penjelasan untuk memahami hal ini dalam tulisan kami yang  berjudul &#8220;<strong>Sebuah Kaidah Emas [1] dan [2]</strong>&#8221; di <a href="http://www.alhijroh.co.cc/">www.alhijroh.co.cc</a>.</p>
<p>[10] Hal ini mereka pahami bahwa semua athof itu menunjukkan kepada adanya  perbedaan makna (&#8216;athof jenis pertama dalam tulisan ini)</p>
<p>[11] HR. Bukhori no.9 , Muslim no. 162 dan lafadz ini milik Muslim.</p>
<p>[12] Lihat <strong>Syarh Al Aqidah Ath Thohawiyah</strong> oleh Ibnu Abil  Izz Al Hanafiy <em>rohimahullah</em> dengan tahqiq oleh Syaikh DR. Abdullah bin Abdul Muhsin At Turkiy dan  Syaikh Syu&#8217;aib Al Arnauth hal. 505/II, Terbitan Mu&#8217;asasah Risalah,  Beirut, Lebanon.</p>
<p>[13] Syaikh &#8216;Ali bin Hasan Al Halabiy <em>hafidzahullah </em>mengatakan  &#8220;(nukilan ini) dikeluarkan oleh Al Lalikai no. 101&#8243;. Lihat <strong>Al  Muntaqo An Nafis min Talbis Iblis</strong> oleh Syaikh &#8216;Ali bin Hasan Al  Halabiy <em>hafidzahullah </em>hal. 34, terbitan Dar Ibnul Jauziy,  Riyadh, KSA.</p>
<p>Sumber: http://alhijroh.co.cc/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://badaronline.com/artikel/empat-jenis-athof-dalam-al-quran-dan-sunnah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Web Badar Online Pindah Alamat Domain</title>
		<link>http://badaronline.com/dari-redaksi/web-badar-online-pindah-alamat-domain.html</link>
		<comments>http://badaronline.com/dari-redaksi/web-badar-online-pindah-alamat-domain.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Mar 2010 11:27:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://badaronline.com/?p=911</guid>
		<description><![CDATA[Pengunjung Website Bahasa Arab Online yang dimuliakan oleh Allah, alhamdulillah setelah proses yang cukup lama akhirnya kami bisa pindah alamat dari web sebelumnya badar.muslim.or.id ke domain baru badaronline.com.
Keputusan pindah domain ini merupakan keputusan yang cukup berat juga, karena web ini sudah cukup di kenal dan link-linknya juga sudah banyak menyebar di search engine, belum lagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengunjung Website Bahasa Arab Online yang dimuliakan oleh Allah, <em>alhamdulillah</em> setelah proses yang cukup lama akhirnya kami bisa pindah alamat dari web sebelumnya <strong>badar.muslim.or.id</strong> ke domain baru <strong>badaronline.com</strong>.</p>
<p>Keputusan pindah domain ini merupakan keputusan yang cukup berat juga, karena web ini sudah cukup di kenal dan link-linknya juga sudah banyak menyebar di search engine, belum lagi mengingat proses perpindahan server, backup dan upload database dan lainnya.</p>
<p>Alasan lainnya adalah karena domain badar awalnya merupakan subdomain dari muslim.or.id, ketika website muslim mengalami perpindahan server beberapa waktu lalu, maka kami juga harus ikut pindah server. Mengingat respon yang cukup besar dari pengunjung web dan manfaat cukup signifikan dari web ini kami memutuskan untuk menggunakan domain sendiri, untuk kemudahan dan kenyamanan.</p>
<p>Alhamdulillah proses perpindahan bisa dilalui dengan baik walaupun memerlukan waktu yang cukup lama. Waktu yang cukup lama ini dikarenakan belum bisa fokusnya pengurusan web dan beberapa penghalang lain.</p>
<p>Semoga ini menjadi salah satu langkah perbaikan dan pengingkatan ke depan, amin..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://badaronline.com/dari-redaksi/web-badar-online-pindah-alamat-domain.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa Arab Dasar 120: Tawabi&#039; Lil Majrur Dan Penutup</title>
		<link>http://badaronline.com/dasar/bahasa-arab-dasar-120-tawabi-lil-majrur-dan-penutup.html</link>
		<comments>http://badaronline.com/dasar/bahasa-arab-dasar-120-tawabi-lil-majrur-dan-penutup.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 09:08:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar]]></category>
		<category><![CDATA[Nahwu]]></category>
		<category><![CDATA[Tawabi']]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://badaronline.com/?p=908</guid>
		<description><![CDATA[اَلتَّوَابِعُ لِلْمَجْرُوْرِ
Tawabi Pada Isim Majrur
1. اَلنَّعْتُ
Contoh:
هَذِهِ القِصَّةُ ذُكِرَتْ فِي حَدِيْثٍ صَحِيْحٍ (Kisah ini disebutkan di dalam  hadits yang shohih)
2. اَلْعَطْفُ
Contoh:
كَتَبْتُ بِالدَّفْتَرِ وَالقَلَمِ (Aku menulis  dengan menggunakan buku tulis dan pena)

3. اَلتَّوْكِيْدُ
Contoh:
هَذَا الْكِتَابُ لِمُحَمَّدٍ مُحَمَّدٍ (Buku ini  betul-betul milik Muhammad)
4. اَلْبَدَلُ
Contoh:
مَرَرْتُ بِالأُسْتَاذِ مُحَمَّدٍ (Aku  berpapasan dengan Ustadz Muhammad)
Penutup:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a class="arab1">اَلتَّوَابِعُ لِلْمَجْرُوْرِ</a><br />
<strong>Tawabi Pada Isim Majrur</strong></p>
<p>1. <a class="arab">اَلنَّعْتُ</a></p>
<p>Contoh:</p>
<p><a class="arab">هَذِهِ القِصَّةُ ذُكِرَتْ فِي حَدِيْثٍ صَحِيْحٍ</a> (Kisah ini disebutkan di dalam  hadits yang shohih)</p>
<p>2. <a class="arab">اَلْعَطْفُ</a></p>
<p>Contoh:</p>
<p><a class="arab">كَتَبْتُ بِالدَّفْتَرِ وَالقَلَمِ</a> (Aku menulis  dengan menggunakan buku tulis dan pena)</p>
<p><span id="more-908"></span></p>
<p>3. <a class="arab">اَلتَّوْكِيْدُ</a></p>
<p>Contoh:</p>
<p><a class="arab">هَذَا الْكِتَابُ لِمُحَمَّدٍ مُحَمَّدٍ</a> (Buku ini  betul-betul milik Muhammad)</p>
<p>4. <a class="arab">اَلْبَدَلُ</a></p>
<p>Contoh:</p>
<p><a class="arab">مَرَرْتُ بِالأُسْتَاذِ مُحَمَّدٍ</a> (Aku  berpapasan dengan Ustadz Muhammad)</p>
<p><strong>Penutup:</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><a class="arab">مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ</a></p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah <em>ta’ala</em> maka dia akan dipahamkan dalam urusan agamanya.&#8221;</em></p>
<p>Maka Bahasa Arab merupakan kunci dalam memahami agama islam, dan merupakan salah satu tanda baiknya seseorang.</p>
<p>Kami mengharap kepada ikhwah sekalian agar mencari referensi-referensi lain untuk menambah perbendaharaan ilmu bahasa arab, bahkan kalau memungkinankan mencari seorang guru yang membimbing langsung dalam pembelajaran bahasa arab ini lebih lanjut.</p>
<p>Kami memohon ampun kepada Allah <em>ta’ala</em> atas kesalahan-kesalahan yang telah kami lakukan dan kami memohon kepada Allah barakah atas ilmu yang telah kita pelajari.</p>
<p style="text-align: center;"><a class="arab1">سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://badaronline.com/dasar/bahasa-arab-dasar-120-tawabi-lil-majrur-dan-penutup.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
<enclosure url="http://badaronline.com/sounds/nahwu1/dasar-120-tawabi-lil-majrur-penutup.mp3" length="1347696" type="audio/mpeg" />
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa Arab Dasar 119: Faidah Idhofah</title>
		<link>http://badaronline.com/dasar/bahasa-arab-dasar-119-faidah-idhofah.html</link>
		<comments>http://badaronline.com/dasar/bahasa-arab-dasar-119-faidah-idhofah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 08:05:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar]]></category>
		<category><![CDATA[Nahwu]]></category>
		<category><![CDATA[Idhofah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://badaronline.com/?p=906</guid>
		<description><![CDATA[Faidah:
1. Secara umum, kandungan makna idhofah mempunyai tiga  arti:
a. Bermakna مِنْ (dari)
Contoh:
خَاتَمُ حَدِيْدٍ (Cincin besi)
Maknanya adalah,
خَاتَمٌ مِنْ حَدِيْدٍ (Cincin dari  besi)

b. Bermakna لِ (milik)
Contoh:
بَيْتُ عَلِيٍّ (Rumah Ali)
Maknanya adalah,
بَيْتٌ لِعَلِيٍّ (Rumah milik Ali)
c. Bermakna فِي (di dalam)
Contoh:
عَذَابُ القَبْرِ (Azab Kubur)
Maknanya adalah,
عَذَابٌ فِي  القَبْرِ (Azab di dalam kubur)
2. Apabila mudhof berupa isim yang berakhiran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Faidah:</strong></p>
<p>1. Secara umum, kandungan makna idhofah mempunyai tiga  arti:</p>
<p>a. Bermakna <a class="arab">مِنْ</a> (dari)</p>
<p>Contoh:</p>
<p><a class="arab">خَاتَمُ حَدِيْدٍ</a> (Cincin besi)</p>
<p>Maknanya adalah,</p>
<p><a class="arab">خَاتَمٌ مِنْ حَدِيْدٍ</a> (Cincin dari  besi)</p>
<p><span id="more-906"></span></p>
<p>b. Bermakna <a class="arab">لِ</a> (milik)</p>
<p>Contoh:</p>
<p><a class="arab">بَيْتُ عَلِيٍّ</a> (Rumah Ali)</p>
<p>Maknanya adalah,</p>
<p><a class="arab">بَيْتٌ لِعَلِيٍّ</a> (Rumah milik Ali)</p>
<p>c. Bermakna <a class="arab">فِي</a> (di dalam)</p>
<p>Contoh:</p>
<p><a class="arab">عَذَابُ القَبْرِ</a> (Azab Kubur)</p>
<p>Maknanya adalah,</p>
<p><a class="arab">عَذَابٌ فِي  القَبْرِ</a> (Azab di dalam kubur)</p>
<p>2. Apabila mudhof berupa isim yang berakhiran dengan alif,  dan mudhof ilaihi berupa ya&#8217; mutakallim, maka ya&#8217; ditulis dengan harakat fathah</p>
<p>Contoh:</p>
<p><a class="arab">يَدَايَ</a> (Kedua tanganku)</p>
<p>Asalnya adalah <a class="arab">يَدَانِ</a> sebagai  mudhof, nunnya dibuang sehingga bentuknya menjadi <a class="arab">يَدَا</a> .</p>
<p>mengingat <a class="arab">يَدَا</a> berakhiran  alif, maka ketika diidhofahkan kepada ya&#8217; mutakallim menjadi <a class="arab">يَدَايَ</a> .</p>
<p><a class="arab">هُدَايَ</a> (Petunjukku)</p>
<p>Asalnya adalah,</p>
<p><a class="arab">اَلْهُدَى</a> dan ya&#8217;  mutakallim (<a class="arab">ي</a>)</p>
<p><a class="arab">سِوَايَ</a> (Selainku)</p>
<p>Asalnya adalah,</p>
<p><a class="arab">سِوَى</a> dan ya&#8217;  mutakallim (<a class="arab">ي</a>)</p>
<p>3. Apabila mudhof berupa isim yang berakhiran dengan ya&#8217; dan  mudhof ilaihi berupa ya&#8217; mutakallim, maka ya&#8217; ditulis dengan fathah yang  ditasdid.</p>
<p>Contoh:</p>
<p><a class="arab">مُدَرِّسِيَّ</a> (Para pengajarku)</p>
<p>Asalnya adalah,</p>
<p><a class="arab">مُدَرِّسِيْنَ</a> dan ya&#8217;  mutakallim (<a class="arab">ي</a>)</p>
<p><a class="arab">مُحَامِيَّ</a> (Pengacaraku)</p>
<p>Asalnya adalah,</p>
<p><a class="arab">اَلْمُحَامِي</a> dan  ya&#8217;mutakallim (<a class="arab">ي</a>)</p>
<p><a class="arab">مُفْتِيَّ</a> (Muftiku)</p>
<p>Asalnya adalah,</p>
<p><a class="arab">مُفْتِي</a> dan ya&#8217;  mutakallim (<a class="arab">ي</a>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://badaronline.com/dasar/bahasa-arab-dasar-119-faidah-idhofah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
<enclosure url="http://badaronline.com/sounds/nahwu1/dasar-119-faidah-idhofah.mp3" length="1427328" type="audio/mpeg" />
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa Arab Dasar 118: Syarat-Syarat Idhofah</title>
		<link>http://badaronline.com/dasar/bahasa-arab-dasar-118-syarat-syarat-idhofah.html</link>
		<comments>http://badaronline.com/dasar/bahasa-arab-dasar-118-syarat-syarat-idhofah.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 08:48:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar]]></category>
		<category><![CDATA[Nahwu]]></category>
		<category><![CDATA[Idhofah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://badaronline.com/?p=904</guid>
		<description><![CDATA[شُرُوْطُ الإِضَافَةِ
(Syarat-Syarat Idhofah)
Syarat-syarat idhofah ada 3:
1. Mudhof tidak boleh ditanwin. Contoh:
حَقِيْبِةٌ = mudhof
مُحَمَّدٌ = mudhof ilaihi
Susunan idhofahnya adalah,
حَقِيْبَةُ مُحَمَّدٍ (Tas Muhammad)
جَوَّالٌ = mudhof
مُحَمَّدٌ = mudhof ilaihi
Susunan idhofahnya adalah:
جَوَّالُ مُحَمَّدٍ (Handphone Muhammad)
2. Membuang nun mutsanna atau jama&#8217; pada mudhof. Contoh:
كِتَابَانِ = mudhof
مُحَمَّدٌ = mudhof  ilaihi
Susunan idhofahnya adalah,
كِتَابَا مُحَمَّدٍ (Kitab Muhammad)
مُدَرِّسُوْنَ = mudhof
مَعْهَدٌ = mudhof  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a class="arab1">شُرُوْطُ الإِضَافَةِ</a><br />
<strong>(Syarat-Syarat Idhofah)</strong></p>
<p>Syarat-syarat idhofah ada 3:</p>
<p>1. Mudhof tidak boleh ditanwin. Contoh:</p>
<p><a class="arab">حَقِيْبِةٌ</a> = mudhof</p>
<p><a class="arab">مُحَمَّدٌ</a> = mudhof ilaihi</p>
<p>Susunan idhofahnya adalah,</p>
<p><a class="arab">حَقِيْبَةُ مُحَمَّدٍ</a> (Tas Muhammad)</p>
<p><span id="more-904"></span><a class="arab">جَوَّالٌ</a> = mudhof</p>
<p><a class="arab">مُحَمَّدٌ</a> = mudhof ilaihi</p>
<p>Susunan idhofahnya adalah:</p>
<p><a class="arab">جَوَّالُ مُحَمَّدٍ</a> (Handphone Muhammad)</p>
<p>2. Membuang nun mutsanna atau jama&#8217; pada mudhof. Contoh:</p>
<p><a class="arab">كِتَابَانِ</a> = mudhof</p>
<p><a class="arab">مُحَمَّدٌ</a> = mudhof  ilaihi</p>
<p>Susunan idhofahnya adalah,</p>
<p><a class="arab">كِتَابَا مُحَمَّدٍ</a> (Kitab Muhammad)</p>
<p><a class="arab">مُدَرِّسُوْنَ</a> = mudhof</p>
<p><a class="arab">مَعْهَدٌ</a> = mudhof  ilaihi</p>
<p>Susunan idhofahnya adalah,</p>
<p><a class="arab">مُدَرِّسُوْ مَعْهَدٍ</a> (Para pengajar ma&#8217;had)</p>
<p>3. Membuang  alif lam dari mudhof</p>
<p>Contoh:</p>
<p><a class="arab">الرَّسُوْلُ</a> = mudhof</p>
<p><a class="arab">اللهُ</a> = mudhof  ilaihi</p>
<p>Susunan idhofahnya adalah,</p>
<p><a class="arab">رَسُوْلُ اللهِ</a> (Rasulullah)</p>
<p><a class="arab">البَابُ</a> = mudhof</p>
<p><a class="arab">الْمَسْجِدُ</a> = mudhof  ilahi</p>
<p>Susunan idhofahnya adalah,</p>
<p><a class="arab">بَابُ الْمَسْجِدِ</a> (Pintu Masjid)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://badaronline.com/dasar/bahasa-arab-dasar-118-syarat-syarat-idhofah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
<enclosure url="http://badaronline.com/sounds/nahwu1/dasar-118-syarat-idhofah.mp3" length="1971288" type="audio/mpeg" />
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa Arab Dasar 117: Macam-Macam Mudhaf Ilaihi</title>
		<link>http://badaronline.com/dasar/bahasa-arab-dasar-117-macam-macam-mudhaf-ilaihi.html</link>
		<comments>http://badaronline.com/dasar/bahasa-arab-dasar-117-macam-macam-mudhaf-ilaihi.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Feb 2010 01:54:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar]]></category>
		<category><![CDATA[Nahwu]]></category>
		<category><![CDATA[Isim Majrur]]></category>
		<category><![CDATA[Mudhof]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://badaronline.com/?p=899</guid>
		<description><![CDATA[أَنْوَاعُ الْمُضَافِ إِلَيْهِ
(Macam-Macam Mudhof  Ilaihi)

1. Mu&#8217;rob
Mudhof ilaihi yang berbentuk isim mu&#8217;rab harus  selalu majrur. Contoh:
كِتَابُ الْمُسْلِمِ
كِتَابُ الْمُسْلِمَيْنِ
كِتَابُ الْمُسْلِمِيْنَ
حَدِيْثُ عَائِشَةَ

2. Mabni
Mudhof ilaihi yang berbentuk isim mabni tidak mengalami  perubahan harokat akhir (sesuai bentuk aslinya).
Contoh:
كِتَابُكَ (Kitabmu &#8211; laki-laki)
كِتَابُكِ (Kitabmu &#8211; wanita)
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="arab1">أَنْوَاعُ الْمُضَافِ إِلَيْهِ</a><br />
<strong>(Macam-Macam Mudhof  Ilaihi)</strong></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://badaronline.com/images/nahwu1/dasar-117-macam-mudhof-ilaihi.jpg" alt="Macam-Macam Mudhof Ilaihi" /></p>
<p>1. Mu&#8217;rob</p>
<p>Mudhof ilaihi yang berbentuk isim mu&#8217;rab harus  selalu majrur. Contoh:</p>
<p><a class="arab">كِتَابُ الْمُسْلِمِ</a></p>
<p><a class="arab">كِتَابُ الْمُسْلِمَيْنِ</a></p>
<p><a class="arab">كِتَابُ الْمُسْلِمِيْنَ</a></p>
<p><a class="arab">حَدِيْثُ عَائِشَةَ</a></p>
<p><span id="more-899"></span></p>
<p>2. Mabni</p>
<p>Mudhof ilaihi yang berbentuk isim mabni tidak mengalami  perubahan harokat akhir (sesuai bentuk aslinya).</p>
<p>Contoh:</p>
<p><a class="arab">كِتَابُكَ</a> (Kitabmu &#8211; laki-laki)</p>
<p><a class="arab">كِتَابُكِ</a> (Kitabmu &#8211; wanita)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://badaronline.com/dasar/bahasa-arab-dasar-117-macam-macam-mudhaf-ilaihi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
<enclosure url="http://badaronline.com/sounds/nahwu1/dasar-117-macam-idhofah.mp3" length="840312" type="audio/mpeg" />
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa Arab Dasar 116: Majrur Dengan Idhafah</title>
		<link>http://badaronline.com/dasar/bahasa-arab-dasar-116-majrur-dengan-idhafah.html</link>
		<comments>http://badaronline.com/dasar/bahasa-arab-dasar-116-majrur-dengan-idhafah.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 01:24:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar]]></category>
		<category><![CDATA[Nahwu]]></category>
		<category><![CDATA[Idhofah]]></category>
		<category><![CDATA[Majrur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://badaronline.com/?p=896</guid>
		<description><![CDATA[اَلْمَجْرُوْرُ بِالإِضَافَةِ
(Majrur  Karena Idhafah)
Idhafah adalah bentuk penyandaran  suatu isim dengan isim yang lain.
Contoh:
كِتَابُ مُحَمَّدٍ (Bukunya Muhammad)
خَاتَمُ ذَهَبٍ (Cincin emas)

1. Isim yang pertama yaitu كِتَابُ dan خَاتَمُ dikenal  dengan istilah mudhaf.
2. Isim yang kedua yaitu مُحَمَّدٍ dan ذَهَبٍ dikenal  dengan istilah mudhaf ilaihi.
Mengingat susunan idhafah adalah terdiri dari mudhaf dan  mudhaf [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><a class="arab1">اَلْمَجْرُوْرُ بِالإِضَافَةِ</a><br />
<strong>(Majrur  Karena Idhafah)</strong></p>
<p>Idhafah adalah bentuk penyandaran  suatu isim dengan isim yang lain.</p>
<p>Contoh:</p>
<p><a class="arab">كِتَابُ مُحَمَّدٍ</a> (Bukunya Muhammad)</p>
<p><a class="arab">خَاتَمُ ذَهَبٍ</a> (Cincin emas)</p>
<p><span id="more-896"></span></p>
<p>1. Isim yang pertama yaitu <a class="arab">كِتَابُ</a> dan <a class="arab">خَاتَمُ</a> dikenal  dengan istilah mudhaf.</p>
<p>2. Isim yang kedua yaitu <a class="arab">مُحَمَّدٍ</a> dan <a class="arab">ذَهَبٍ</a> dikenal  dengan istilah mudhaf ilaihi.</p>
<p>Mengingat susunan idhafah adalah terdiri dari mudhaf dan  mudhaf ilaihi, terkadang istilah idhafah dikenal dengan istilah <strong>mudhaf –  mudhaf ilaihi</strong>.</p>
<p>I&#8217;rab mudhaf adalah mengikuti kedudukannya didalam kalimat  adapun I&#8217;rab mudhaf ilaihi  adalah selalu  majrur.</p>
<p>Contoh:</p>
<p><a class="arab">كِتَابُ مُحَمَّدٍ مُفِيْدٌ</a> (Bukunya Muhammad bermanfaat)</p>
<p><a class="arab">أَسْتَعِيْرُ كِتَابَ مُحَمَّدٍ</a> (Aku meminjam bukunya Muhammad)</p>
<p><a class="arab">هَذِهِ الْمُلاَحَظَةُ مَوْجُوْدَةٌ فِي كِتَابِ مُحَمَّدٍ</a> (Catatan ini  terdapat di bukunya Muhammad)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://badaronline.com/dasar/bahasa-arab-dasar-116-majrur-dengan-idhafah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
