Bahasa Arab Dasar 93: Faidah Hal

Written by

in

,

Setiap jumlah yang terletak setelah isim nakiroh, maka ia adalah sifat, adapun apabila terletak setelah isim ma’rifat maka ia adalah hal.

Contoh:

سَمِعْتُ طُيُوْرًا تُغَرِّدُ (Aku mendengar burung-burung berkicau)

تُغَرِّدُ = Sifat

سَمِعْتُ الطُّيُوْرَ تُغَرِّدُ (Aku mendengar burung-burung berkicau)

تُغَرِّدُ = Hal

Dengarkan Kajian:

[sc_embed_player_template1 fileurl=”http://badaronline.com/sounds/nahwu1/dasar-93-faidah-hal.mp3″]

Comments

9 responses to “Bahasa Arab Dasar 93: Faidah Hal”

  1. Mahmud Avatar

    Assalamu ‘alaikum wr. wb.

    Mohon bantuan Al Ustadz, utk bisa memberikan beberapa contoh hal dan sifat yg berupa jumlah; baik yg berupa mubdata’ khobar, fiil fail maupun sibhul jumlah.

    Jazakumullohi khoiron katsiro,
    Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

  2. Badar Online Avatar

    #Mahmud
    wa’alaikumussalam
    1. Hal yang berupa jumlah misalnya:
    سَارَ الطِّفْلُ يَبْكِي
    “Anak kecil itu berjalan dalam keadaan menangis.”
    Kalimat yabki adalah jumlah yang menduduki posisi hal, karena jumlah tersebut datang setelah isim ma’rifat.
    2. Sifat yang berupa jumlah misalnya:
    سَارَ طِفْلٌ يَبْكِي
    “Anak kecil yang menangis itu berjalan.”
    Kalimat yabki di sini menduduki posisi sifat, karena jumlahnya datang setelah isim nakirah.”

    wa jazakumullahu khairan..

  3. Mahmud Avatar

    Sukron katsiro, Ustadz.

    Dalam modul 92, Al Ustadz telah menjelaskan bahwa hal itu ada 2 jenis yaitu hal mufrod dan murokab ( ada jumlah ismiyah dan jumlah fi’liyah serta saya pernah baca ada sibhul jumlah, termasuk didalamnya jar majrur dan thorf mathruf ).
    Nah yg masih belum saya fahami adalah hal yg murokab, termasuk perbedaanya dgn sifat; oleh karena itu saya butuh contoh 2 utk membantu pemahaman saya.

    Terima kasih.
    Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

  4. Badar Online Avatar

    #Mahmud
    Untuk perbedaannya dengan sifat, menurut kami penjelasannya cukup jelas, yaitu kalau jumlah tersebut datang setelah isim nakirah maka jumlahnya adalah sifat, kalau jumlah datang setelah ma’rifat maka hal.
    Contoh hal yang berupa jumlah ismiyyah dan fi’liyyah telah di bahas pada pelajaran sebelumnya, silakan di simak kembali dengan seksama, contoh lain misalnya:
    اِسْتَيْقَظْتُ وَالشَّمْسُ طَالِعَةٌ
    Dalam jumlah di atas, jumlah “wasy syamsu tholi’atun” adalah hal yang berbentuk jumlah ismiyyah, karena jumlahnya dimulai dengan isim, artinya, “Aku bangun dalam keadaan matahari telah terang.”
    Contoh hal yang berupa zhorof – mudhof ilaihi:
    رَأَيْتُ الطَّائِرَةَ بَيْنَ السَّحَابِ
    Dalam jumlah ini, kalimat “baina as-sahab” menduduki posisi hal, sehingga diartikan, “Aku melihat pesawat dalam keadaan di antara awan.”
    Untuk pembahasan lebih lengkap bisa dilihat di kitab “Mulakhosh Qowa’id Lughoh ‘Arabiyyah” atau kitab-kitab bahasa arab lanjutan lainnya.
    Pada pelajaran dasar ini, targetnya baru tahap mengenalkan sehingga penjabarannya belum terperinci, insyaAllah pada pelajaran Bahasa Arab Lanjutan kami bisa memaparkan materi yang lebih banyak dan lebih dalam lagi, amin.
    Semoga dapat dipahami.

  5. aida Avatar
    aida

    perbedaan dari segi makna jumlah ismiyah dan jumlah fi’liyah apa ya? terutama yg berkaitan dengan ayat-ayat quran

  6. Badar Online Avatar

    #aida
    Kalau dari segi makna ke bahasa indonesia tidak begitu berbeda, perbedaan tersebut dilihat dari konteks kalimat itu sendiri.

  7. kikin Avatar
    kikin

    alhamdulillah dgn adanya badaronline saya terbantu dlm mempelajari bhs arab izin download & semoga bermanfaat terutama bg sy dan kemajuan syi’ar islam aamiin

  8. shokad Avatar
    shokad

    macammana hendak bezakan hal dengan maf’ulubih?

  9. […] http://badaronline.com/dasar/bahasa-arab-dasar-93-faidah-hal.html diakses tgl 1-7-2012 jam 13.00 wib Like this:SukaBe the first to like this. […]