web 2.0

Bahasa Arab Dasar 93: Faidah Hal

Setiap jumlah yang terletak setelah isim nakiroh, maka ia adalah sifat, adapun apabila terletak setelah isim ma’rifat maka ia adalah hal.

Contoh:

سَمِعْتُ طُيُوْرًا تُغَرِّدُ (Aku mendengar burung-burung berkicau)

تُغَرِّدُ = Sifat

سَمِعْتُ الطُّيُوْرَ تُغَرِّدُ (Aku mendengar burung-burung berkicau)

تُغَرِّدُ = Hal

Dengarkan Kajian:

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

order cialis

Print This Post Print This Post 15,278 views

Iklan Baris

Web Buletin Tauhid
Website ini adalah kumpulan berbagai artikel Buletin At Tauhid. Buletin ini diterbitkan oleh Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari (YPIA) yang berpusat di Yogyakarta. Buletin ini terbit setiap Jum'at dan disebar di masjid-masjid sekitar kampus UGM.

9 Komentar Untuk “Bahasa Arab Dasar 93: Faidah Hal”

  1. Assalamu ‘alaikum wr. wb.

    Mohon bantuan Al Ustadz, utk bisa memberikan beberapa contoh hal dan sifat yg berupa jumlah; baik yg berupa mubdata’ khobar, fiil fail maupun sibhul jumlah.

    Jazakumullohi khoiron katsiro,
    Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

  2. #Mahmud
    wa’alaikumussalam
    1. Hal yang berupa jumlah misalnya:
    سَارَ الطِّفْلُ يَبْكِي
    “Anak kecil itu berjalan dalam keadaan menangis.”
    Kalimat yabki adalah jumlah yang menduduki posisi hal, karena jumlah tersebut datang setelah isim ma’rifat.
    2. Sifat yang berupa jumlah misalnya:
    سَارَ طِفْلٌ يَبْكِي
    “Anak kecil yang menangis itu berjalan.”
    Kalimat yabki di sini menduduki posisi sifat, karena jumlahnya datang setelah isim nakirah.”

    wa jazakumullahu khairan..

  3. Sukron katsiro, Ustadz.

    Dalam modul 92, Al Ustadz telah menjelaskan bahwa hal itu ada 2 jenis yaitu hal mufrod dan murokab ( ada jumlah ismiyah dan jumlah fi’liyah serta saya pernah baca ada sibhul jumlah, termasuk didalamnya jar majrur dan thorf mathruf ).
    Nah yg masih belum saya fahami adalah hal yg murokab, termasuk perbedaanya dgn sifat; oleh karena itu saya butuh contoh 2 utk membantu pemahaman saya.

    Terima kasih.
    Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

  4. #Mahmud
    Untuk perbedaannya dengan sifat, menurut kami penjelasannya cukup jelas, yaitu kalau jumlah tersebut datang setelah isim nakirah maka jumlahnya adalah sifat, kalau jumlah datang setelah ma’rifat maka hal.
    Contoh hal yang berupa jumlah ismiyyah dan fi’liyyah telah di bahas pada pelajaran sebelumnya, silakan di simak kembali dengan seksama, contoh lain misalnya:
    اِسْتَيْقَظْتُ وَالشَّمْسُ طَالِعَةٌ
    Dalam jumlah di atas, jumlah “wasy syamsu tholi’atun” adalah hal yang berbentuk jumlah ismiyyah, karena jumlahnya dimulai dengan isim, artinya, “Aku bangun dalam keadaan matahari telah terang.”
    Contoh hal yang berupa zhorof – mudhof ilaihi:
    رَأَيْتُ الطَّائِرَةَ بَيْنَ السَّحَابِ
    Dalam jumlah ini, kalimat “baina as-sahab” menduduki posisi hal, sehingga diartikan, “Aku melihat pesawat dalam keadaan di antara awan.”
    Untuk pembahasan lebih lengkap bisa dilihat di kitab “Mulakhosh Qowa’id Lughoh ‘Arabiyyah” atau kitab-kitab bahasa arab lanjutan lainnya.
    Pada pelajaran dasar ini, targetnya baru tahap mengenalkan sehingga penjabarannya belum terperinci, insyaAllah pada pelajaran Bahasa Arab Lanjutan kami bisa memaparkan materi yang lebih banyak dan lebih dalam lagi, amin.
    Semoga dapat dipahami.

  5. perbedaan dari segi makna jumlah ismiyah dan jumlah fi’liyah apa ya? terutama yg berkaitan dengan ayat-ayat quran

  6. #aida
    Kalau dari segi makna ke bahasa indonesia tidak begitu berbeda, perbedaan tersebut dilihat dari konteks kalimat itu sendiri.

  7. alhamdulillah dgn adanya badaronline saya terbantu dlm mempelajari bhs arab izin download & semoga bermanfaat terutama bg sy dan kemajuan syi’ar islam aamiin

  8. macammana hendak bezakan hal dengan maf’ulubih?

  9. […] http://badaronline.com/dasar/bahasa-arab-dasar-93-faidah-hal.html diakses tgl 1-7-2012 jam 13.00 wib Like this:SukaBe the first to like this. […]