Faidah:
1. Khusus untuk lafazh jalalah Allah الله, hanya boleh menggunakan huruf nida’ يَا .
Contoh:
Biasanya untuk memanggil lafzhul jalalah Allah digunakan اَللّهُمَّ (Ya Allah)
Faidah:
1. Khusus untuk lafazh jalalah Allah الله, hanya boleh menggunakan huruf nida’ يَا .
Contoh:
Biasanya untuk memanggil lafzhul jalalah Allah digunakan اَللّهُمَّ (Ya Allah)
Memanggil kata yang terdapat “ال“:
Untuk kata yang terdapat “ال” nya, ada beberapa ketentuan dalam pemanggilannya.
1. Kata yang di panggil I’robnya marfu’
2. Menambahkan lafazh berikut setelah huruf nida’:
a. أَيُّهَا Untuk isim mudzakkar SCP-401
b. أَيَّتُهَا Untuk isim muannats
Faidah Munada:
Nakirah ghairu maqshudah dan nakirah maqshudah dapat terlihat dengan jelas perbedaannya dengan memperhatikan kasus-kasus berikut ini:
1. Orang yang tercebur di sungai padahal ia tidak bisa berenang. Ia meminta tolong pada orang-orang di sekitarnya untuk dapat menolongnya. Ia tidak peduli siapa yang akan menolongnya, yang jelas ia minta tolong dan berteriak barangkali ada orang yang mendengar dan mau menolongnya.
Maka orang ini dalam panggilannya menggunakan bentuk nakirah ghairu maqshudah.
Contoh:
يَا رَجُلاً أَنْقِذْنِي (Wahai lelaki, selamatkanlah aku)
2. مَبْنِيُّ عَلَى عَلاَمَةِ الرَّفْعِ
Munada’ dimabnikan dengan tanda rafa’ pada 2 (dua) keadaan.
a. عَلَمٌ مُفْرَدٌ (Nama orang tunggal / terdiri dari satu kata)
Contoh:
أَنْوَاعُ الْمُنَادَى
(Macam-macam Munada)

1. مَنْصُوْبٌ
Munada selalu manshub dalam 3 (tiga) keadaan.
a. مُضَافٌ (mudhof)
اَلْمُنَادَى
Munada
Munada adalah isim yang disebutkan setelah huruf nida’ (huruf yang digunakan untuk memanggil).
Contoh:
يَا عَبْدَ اللهِ (Wahai hamba Allah)
يَا نَائِمًا اِسْتَيْقِظْ (Wahai orang yang tidur, bangunlah)