web 2.0

Bahasa Arab Dasar 30: Pembentukan Fi’il Majhul

بِنَاءُ الْمَجْهُوْلِ
(Pembentukan Fi’il Majhul)

Fi’il majhul dibentuk dari fi’il ma’lumnya.

Cara Pembentukan Fi’il Majhul Dari Fi’il Ma’lum.

1. Fi’il Madhi

Dikasroh huruf sebelum terakhir dan di dhommah semua huruf yang berharokat sebelumnya.

Contoh:

ضَرَبَ –> ضُرِبَ

قَتَلَ –> قُتِلَ

تَعَلَّمَ –> تُعُلِّمَ

2. Fi’il Mudhori’

Difathah huruf sebelum terakhir dan di dhommah huruf pertamanya

Contoh:

يَكْتُبُ –> يُكْتَبُ

يَفْتَحُ –> يُفْتَحُ

يَسْتَمِعُ –> يُسْتَمَعُ

Catatan:

Apabila pada fi’il madhi terdapat huruf yang disukun, maka pada saat pembentukan fi’il majhul tidak boleh dijadikan dhommah dan tetap harus disukun.

Contoh:

اِسْتَمَعَ –> اُسْتُمِعَ

Dengarkan Kajian:

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

custom essay service

Print This Post Print This Post 27,632 views

Iklan Baris

Web Buletin Tauhid
Website ini adalah kumpulan berbagai artikel Buletin At Tauhid. Buletin ini diterbitkan oleh Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari (YPIA) yang berpusat di Yogyakarta. Buletin ini terbit setiap Jum'at dan disebar di masjid-masjid sekitar kampus UGM.

16 Komentar Untuk “Bahasa Arab Dasar 30: Pembentukan Fi’il Majhul”

  1. Subhanallah,,, dari hati yang terdalam, ingin kukatakan, ana ingin sekali belajar bahasa Arab,,,!!!
    Bantu ana ya Ikhwah Fillah,,,!!!

  2. afwan ada yg ketinggalan yang gak ada edisi 19 dan 28

  3. […] di atas hanya mempunyai satu isim setelah kata kerja, jika أَعْطَى diposisikan sebagai fi’il ma’lum, maka kalimat tersebut tidak mempunyai arti yang dimaksudkan, kepada siapa Muhammad memberi kitab?? […]

  4. Ust. apakah kalimat يبايعنك pada surat 60 ayat 12 ini merupakan kalimat majhul ?

  5. #Ikhwanul Hakim
    Tidak akhi, itu adalah kalimat ma’lum, diambil dari wazan faa’ala yufaa’ilu. Untuk kalimat di atas berarti baaya’a yubaayi’u.
    Yubaayi’na diambil dari kata yubaayi’u yang di tashrif untuk dhomir hunna.
    Pelajaran selengkapnya insyaAllah akan datang pada pertemuan selanjutnya. Semoga Allah memudahkan.

  6. Ustadz, jika ta’allama dibuat fi’il mudhori’nya, apakah menjadi yata’allama?

    Kemudian, kalo yata’allama dibuat fi’il majhulnya,apakah menjadi yuta’allama?

    Jazakumullohu khoiron ustadz..

  7. #ummu ‘Aisyah
    Benar ukh, hanya saja, karena fi’il mudhori tersebut adalah mu’rob maka harakatnya dengan dhommah, jadi yata’allamu dan yuta’allamu.
    wa jazakumullahu khairan

  8. Ustadz,apa qiila / قِيلَ dalah fiil majhul, kaedah pembentukannya bagaimana?
    Jazakumullohu khoiron ustadz

  9. @abu harits
    iya akhi, fi’il majhul, kaedahnya sama seperti biasa, akan tetapi karena ada huruf illat (alif wawu ya) maka ada perbedaan perubahannya, untuk pelajaran tashrif illat belum diajarkan hingga saat ini, tapi ringkasnya, karena ada huruf alif (qoola) pada huruf kedua, menjadikan majhulnya qiila.

  10. subhanalllah

  11. nahwu tu asyik bngt . .tpi kadang2 bikin pusiiing . . .

  12. subhanaalah…semoga jadi amal kebaikan akh…
    mohon ijin copy paste

  13. Bismillah… Ana mau tanya klo fiil majhulnya لام يلوم

    itu لُوِمَ atau لإمَ ??

    Terus bentuk mudhari’-nya gimana, syukran yaa ustadz… :)

  14. ini blog terbaik yang pernah s kunjungi

  15. @Al Fadhli
    Fi’il majhul dari لام يلوم adalah لِيْمَ يُلامُ.

    لام asalnya adalah لَوَمَ mengikuti wazan فَعَلَ. Dengan demikian bentuk majhulnya seharusnya لُوِمَ (luwima) mengikuti wazan فُعِلَ.

    Kenapa لُوِمَ (luwima) bisa jadi لِيْمَ?
    Dengan menerapkan kaidah i’lal (di pelajaran sharf), harakat fa’ fi’il nya (dalam hal ini laam) dihilangkan, sehingga jadilah لْوِمَ (lwima). Karena di dalam bahasa arab, untuk membaca sebuah kalimat tidak boleh diawali dengan huruf yang sukun, maka harakat ‘ain fi’il nya (dalam hal ini wawu) dipindahkan untuk fa’ fi’il nya, sehingga menjadi لِوْمَ. Lalu dalam rangka penyesuaian (munaasabah), maka وْ diganti dengan يْ , sehingga menjadi لِيْمَ.

    Adapun يُلامُ (yulaamu) asalnya dari mudhaari’ ma’lum يَلُوْمُ. يَلُوْمُ sendiri asalnya adalah يَلْوُمُ dengan mengikuti pola يَفْعُلُ. Nah, seharusnya bentuk mudhaari’ majhul nya kan يُلْوَمُ. Namun setelah menerapkan kaidah i’lal, harakat ‘ain fi’il nya (dalam hal ini wawu) dipindahkan untuk fa’ fi’il nya (dalam hal ini laam), sehingga menjadi يُلَوْمُ. Lalu wawu dirubah menjadi alif, karena pada asalnya dia (wawu tersebut) berharakat dan sekarang huruf sebelumnya telah menjadi berharakat (yaitu laam), sehingga menjadi يُلامُ (yulaamu).

    Lebih kurang demikian keterangannya. Bagi yang ingin lebih jelas, maka silahkan belajar ilmu sharf lebih lanjut. Wa zaadakumullaahu hirshan.

  16. ana sangat senang bisa belajar dengan mudah syukron katsiron bikhoir