بِنَاءُ الْمَجْهُوْلِ
(Pembentukan Fi’il Majhul)
Fi’il majhul dibentuk dari fi’il ma’lumnya.
Cara Pembentukan Fi’il Majhul Dari Fi’il Ma’lum.
1. Fi’il Madhi
Dikasroh huruf sebelum terakhir dan di dhommah semua huruf yang berharokat sebelumnya.
Contoh:
2. Fi’il Mudhori’
Difathah huruf sebelum terakhir dan di dhommah huruf pertamanya
Contoh:
Catatan:
Apabila pada fi’il madhi terdapat huruf yang disukun, maka pada saat pembentukan fi’il majhul tidak boleh dijadikan dhommah dan tetap harus disukun.
Contoh:
Dengarkan Kajian:
Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.
Print This Post
19,274 views













12th January 2009 pada waktu 12:44 am
Subhanallah,,, dari hati yang terdalam, ingin kukatakan, ana ingin sekali belajar bahasa Arab,,,!!!
Bantu ana ya Ikhwah Fillah,,,!!!
18th February 2009 pada waktu 2:59 am
afwan ada yg ketinggalan yang gak ada edisi 19 dan 28
31st May 2009 pada waktu 11:58 pm
[...] di atas hanya mempunyai satu isim setelah kata kerja, jika أَعْطَى diposisikan sebagai fi’il ma’lum, maka kalimat tersebut tidak mempunyai arti yang dimaksudkan, kepada siapa Muhammad memberi kitab?? [...]
26th July 2009 pada waktu 3:53 pm
Ust. apakah kalimat يبايعنك pada surat 60 ayat 12 ini merupakan kalimat majhul ?
27th July 2009 pada waktu 5:27 pm
#Ikhwanul Hakim
Tidak akhi, itu adalah kalimat ma’lum, diambil dari wazan faa’ala yufaa’ilu. Untuk kalimat di atas berarti baaya’a yubaayi’u.
Yubaayi’na diambil dari kata yubaayi’u yang di tashrif untuk dhomir hunna.
Pelajaran selengkapnya insyaAllah akan datang pada pertemuan selanjutnya. Semoga Allah memudahkan.
30th January 2010 pada waktu 7:54 am
Ustadz, jika ta’allama dibuat fi’il mudhori’nya, apakah menjadi yata’allama?
Kemudian, kalo yata’allama dibuat fi’il majhulnya,apakah menjadi yuta’allama?
Jazakumullohu khoiron ustadz..
2nd February 2010 pada waktu 8:44 am
#ummu ‘Aisyah
Benar ukh, hanya saja, karena fi’il mudhori tersebut adalah mu’rob maka harakatnya dengan dhommah, jadi yata’allamu dan yuta’allamu.
wa jazakumullahu khairan
19th July 2010 pada waktu 1:51 pm
Ustadz,apa qiila / قِيلَ dalah fiil majhul, kaedah pembentukannya bagaimana?
Jazakumullohu khoiron ustadz
19th July 2010 pada waktu 10:53 pm
@abu harits
iya akhi, fi’il majhul, kaedahnya sama seperti biasa, akan tetapi karena ada huruf illat (alif wawu ya) maka ada perbedaan perubahannya, untuk pelajaran tashrif illat belum diajarkan hingga saat ini, tapi ringkasnya, karena ada huruf alif (qoola) pada huruf kedua, menjadikan majhulnya qiila.
26th December 2010 pada waktu 3:27 pm
subhanalllah
28th March 2011 pada waktu 11:53 am
nahwu tu asyik bngt . .tpi kadang2 bikin pusiiing . . .
5th July 2011 pada waktu 7:32 pm
subhanaalah…semoga jadi amal kebaikan akh…
mohon ijin copy paste
18th December 2011 pada waktu 4:45 am
Bismillah… Ana mau tanya klo fiil majhulnya لام يلوم
itu لُوِمَ atau لإمَ ??
Terus bentuk mudhari’-nya gimana, syukran yaa ustadz… :)
20th December 2011 pada waktu 9:28 am
ini blog terbaik yang pernah s kunjungi
16th January 2012 pada waktu 3:43 am
@Al Fadhli
Fi’il majhul dari لام يلوم adalah لِيْمَ يُلامُ.
لام asalnya adalah لَوَمَ mengikuti wazan فَعَلَ. Dengan demikian bentuk majhulnya seharusnya لُوِمَ (luwima) mengikuti wazan فُعِلَ.
Kenapa لُوِمَ (luwima) bisa jadi لِيْمَ?
Dengan menerapkan kaidah i’lal (di pelajaran sharf), harakat fa’ fi’il nya (dalam hal ini laam) dihilangkan, sehingga jadilah لْوِمَ (lwima). Karena di dalam bahasa arab, untuk membaca sebuah kalimat tidak boleh diawali dengan huruf yang sukun, maka harakat ‘ain fi’il nya (dalam hal ini wawu) dipindahkan untuk fa’ fi’il nya, sehingga menjadi لِوْمَ. Lalu dalam rangka penyesuaian (munaasabah), maka وْ diganti dengan يْ , sehingga menjadi لِيْمَ.
Adapun يُلامُ (yulaamu) asalnya dari mudhaari’ ma’lum يَلُوْمُ. يَلُوْمُ sendiri asalnya adalah يَلْوُمُ dengan mengikuti pola يَفْعُلُ. Nah, seharusnya bentuk mudhaari’ majhul nya kan يُلْوَمُ. Namun setelah menerapkan kaidah i’lal, harakat ‘ain fi’il nya (dalam hal ini wawu) dipindahkan untuk fa’ fi’il nya (dalam hal ini laam), sehingga menjadi يُلَوْمُ. Lalu wawu dirubah menjadi alif, karena pada asalnya dia (wawu tersebut) berharakat dan sekarang huruf sebelumnya telah menjadi berharakat (yaitu laam), sehingga menjadi يُلامُ (yulaamu).
Lebih kurang demikian keterangannya. Bagi yang ingin lebih jelas, maka silahkan belajar ilmu sharf lebih lanjut. Wa zaadakumullaahu hirshan.
8th February 2012 pada waktu 2:53 pm
ana sangat senang bisa belajar dengan mudah syukron katsiron bikhoir