web 2.0

Bahasa Arab Dasar 102: Hukum Mustatsna Dengan Ghoir Dan Siwa

B. Hukum mustatsna dengan غَيْر dan سِوَى

Mustatsna dengan غَيْر dan سِوَى adalah selalu majrur.

Contoh:

رَسَبَ الطُّلاَّبُ غَيْرَ عَلِيٍّ (Para murid gagal kecuali Ali)

نَجَحَ الطُّلاَّبُ سِوَى حَسَنٍ (Para murid lulus kecuali Hasan)

Catatan:

1. Hukum I’rob غَيْر adalah mengikuti hukum mustatsna dengan إِلاَّ

Contoh:

a. Kalimat positif dan disebutkan mustastna minhu.

رَجَعَ الْحَاضِرُوْنَ غَيْرَ مُحَمَّدٍ

b. Kalimat negatif dan disebutkan  mustasna minhu.

مَا رَجَعَ الْحَاضِرُوْنَ غَيْرَ / غَيْرُ مُحَمَّدٍ

c. Kalimat negatif dan tidak disebutkan mustasna minhu.

مَا رَجَعَ غَيْرُ مُحَمَّدٍ

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

Print This Post Print This Post 13,862 views

Iklan Baris

Web Buletin Tauhid
Website ini adalah kumpulan berbagai artikel Buletin At Tauhid. Buletin ini diterbitkan oleh Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari (YPIA) yang berpusat di Yogyakarta. Buletin ini terbit setiap Jum'at dan disebar di masjid-masjid sekitar kampus UGM.

2 Komentar Untuk “Bahasa Arab Dasar 102: Hukum Mustatsna Dengan Ghoir Dan Siwa”

  1. tumpang bertanya,bukankah hukum mustasna dengan ghoir dengan siwa adalah manshub.mhon penjelasan

  2. @ alif
    Akhi, untuk istisna’ dengan ghoiru dan siwa, kita perlu teliti antara istilah “mustatsna” dan “adawatul istitsna”.

    1. Ghoiru dan siwa adalah adawatul istitsna’, bukan mustatsna.
    2. Untuk ghoiru dan siwa, mustatsna-nya selalu majrur karena dia menjadi mudhof ilaihi. Materi di atas telah menjelaskannya.
    3. Adapun adawatul istitsna’, yaitu ghoiru dan siwa, maka dia berubah-ubah tergantung kedudukannya dalam kalimat. Penjelasannya juga sudah ada di atas.

    Barokallohu fik.

Tulis Komentar