Pembaca mulia, kata “malu” dalam bahasa Arab adalah اَلْحَيَاءُ /al-hayaa’/. Kata ini, merupakan derivat dari kata اَلْحَيَاةُ /al-hayaah/, yang artinya adalah “kehidupan”. Selain اَلْحَيَاءُ, contoh derivat lain kata اَلْحَيَاةُ adalah حَيَا /hayaa/, yang artinya “hujan”. Apa kaitan antara hujan dan kehidupan? Kaitannya adalah bahwa hujan merupakan sumber kehidupan bagi bumi, tanaman, dan hewan ternak.
Dalam bahasa Arab, al-hayaah “kehidupan” mencakup kehidupan dunia dan akhirat.
Lalu, kembali ke pokok bahasan utama, apa kaitan al-hayaa’ “malu” dengan al-hayaah “kehidupan”?
Jawabannya adalah karena orang yang tidak memiliki rasa malu, ia seperti mayat di dunia ini, dan ia benar-benar akan celaka di akhirat.
Orang yang tidak memiliki rasa malu, tidak merasa risih ketika bermaksiat.
Ketika ia mempertontonkan lekuk-lekuk tubuhnya dan memamerkan auratnya, ia tidak merasa bahwa itu adalah perbuatan yang menjijikkan….
Ketika ia berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya di tengah keramaian, ia tidak peduli dengan tatapan heran manusia…
Ketika ia melanggar setiap larangan Allah, ia anggap sebagai rutinitas, seolah-olah dia tidak merasa bahwa dirinya hina…
Benar, ia seperti mayat. Ya! apapun yang terjadi di sekitar mayat, tiada kan dapat mendatangkan manfaat baginya…
Maka, benarlah perkataan Ibnul Qayyim
Di antara dampak maksiat adalah menghilangkan MALU yang merupakan SUMBER KEHIDUPAN hati dan inti dari segala kebaikan. Hilangnya rasa malu, berarti hilangnya seluruh kebaikan.
(اَلْجَوَابُ الْكَافِي لِمَنْ سَأَلَ عَنِ الدَّوَاءِ الشَّافِي, hal. 45)
Ini sebagaimana sabda Nabi
/Al-hayaa’ khairun kulluhu/
“Rasa malu seluruhnya adalah kebaikan” (Shahih Muslim: 87)
Oleh karena itu, seseorang yang bermaksiat dan terus menerus melakukannya, dikatakan sebagai orang yang tidak tahu malu. Nabi bersabda
“Sesungguhnya termasuk yang pertama diketahui manusia dari ucapan kenabian adalah jika kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu!”
(Shahih Bukhari: 5769)
Dalam menjelaskan maksud hadits di atas, Ibnul Qayyim berkata,
Maksudnya, dosa-dosa akan melemahkan rasa malu seorang hamba, bahkan bisa menghilangkannya secara keseluruhan. Akibatnya, pelakunya tidak lagi terpengaruh atau merasa risih saat banyak orang mengetahui kondisi dan perilakunya yang buruk. Lebih parah lagi, banyak di antara mereka yang menceritakan keburukannya. Semua ini disebabkan hilangnya rasa malu. Jika seseorang sudah sampai pada kondisi tersebut, tidak dapat diharapkan lagi kebaikannya.
(اَلْجَوَابُ الْكَافِي لِمَنْ سَأَلَ عَنِ الدَّوَاءِ الشَّافِي, hal. 45)
Akhirnya, saya akhiri risalah ini dengan mengutip lagi perkataan Ibnul Qayyim
Barangsiapa malu terhadap Allah saat mendurhakaiNya, niscaya Allah akan malu menghukumnya pada hari pertemuan dengan-Nya. Demikian pula, barangsiapa tidak malu mendurhakaiNya, niscaya Dia tidak malu untuk menghukumnya.
Referensi:
- Kitab اَلْجَوَابُ الْكَافِي لِمَنْ سَأَلَ عَنِ الدَّوَاءِ الشَّافِي yang juga dikenal dengan nama اَلدَّاءُ وَالدَّوَاءُ, karya مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ أَيُّوْبُ اَلزُّرْعِي أَبُوْ عَبْدِ اللهِ (yang dikenal dengan nama Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah). Penerbit: دَارُ الْكُتُبِ الْعِلْمِيَّةِ – بِيْرُوْتُ (via software اَلْمَكْتَبَةُ الشَّامِلَةُ).
Sumber: http://studyarabic.blog.ugm.ac.id/ dengan pengharakatan dari tim Badar Online
Print This Post
5,015 views











17th June 2010 pada waktu 4:36 pm
artikel yang bagus, hanya saja hendaknya tidak disebutkan sumber tentang penjelasan antara hayat (hidup) dan hayaa (malu).
karena Ibnu Faris dalam mu’jam maqooyiisil lugoh menjelaskan bahwa untuk kalimat dengan maa’dah haa yaa dan harf mu’tal memiliki 2 asal yang saling berbeda maknanya. الحياة والحيوان وحيا في أصل واحد
dan asal makna kalimat2 tersebut adalah خلاف الموت
adapun asal yang lain (asl yang kedua)maknanya adalah ضد الوقاحة dan yang termasuk dalam asl ini adalh hayaa (malu) juga حياء الناقة yaitu farju naaqoh
jadi sebenarnya dari penjelasan Ibnu Faris ini tidak ada kaitan antara hayaat dan hayaa.
mohon diperiksa kembali dari buku apa adanya penjelasan kaitan antara dua kalimat ini. baarokallhu fiikum.
akhukum firanda
19th June 2010 pada waktu 11:35 am
@firanda
Ahlan Ustadz, atas kunjungannya di blog kami ini. Oya ustadz, insyaAllah akan kami cek kembali dan konfirmasi ke penulisnya, kami ambil tulisan ini dari saudara kami di blognya. Jazakumullahu khairan atas koreksinya, wa fikum barakAllah
19th June 2010 pada waktu 1:33 pm
@ Ustadz Firanda -hafizhokallah-
Oh.. jazakallah khaira atas koreksinya ustadz.
Seingat saya, ada yang mengaitkannya antara alhayah dengan alhaya’. Kalau saya tidak salah ingat, Ibul Qayyim sendiri, atau Ibnul Jauzi di Dzammul Hawa.
Qaddarallah saat ini sedang di-internet belum bawa kitab. Nanti, saya cek dulu, Ustadz, insyaAllah.
Alhamdulillah, jazakallah khaira atas koreksinya.
–penulis artikel di atas–
26th June 2010 pada waktu 7:13 pm
jamiiiiiiil
27th June 2010 pada waktu 8:40 pm
الحياء: أصله من (ح ي ى), وقيل: من (حيا),وقيل من (ح ي و). وهو مصدر قولهم :( حيّي).
(وحيي منه حياء) بالفتح والمد فهو حيي على وزن فعيل.
يقال: استحيا الرجل يستحى واستحى يستحي معاً, والأول أعلى وأكثر.
وقد حيي منه حياء و استحيا و استحى؛ وقد حذفت الياء الأخيرة كراهية التقاء الياءين.
والحياء على الأصح مشتق من الحياة ( ).
يقال: (حيي) بمعنى: أصيبت حياته، ومسي بمعنى أصيب مساه.
ويُقال: استحياه و استحيا منه. بمعنى : من الحياء, ويقال: استحيت، بياءٍ واحدة وأصله استحييت, فأعلوا الياء الأولى وألقوا حركتها على الحاء, فقالوا: استحيت؛ لمَّا كثُر في كلامهم. وقال الأخفش: يتعدى بنفسه وبالحرف، فيقال: استحيا منك، و استحياك، واستحى منك، و استحاك, واستحييت منه، واستحييته، واستحيا منه, وقيل هما لغتان:
الأولى : استحى بياءٍ واحدة لغة تميم ؛ وإنما حذفوا الياء لكثرة استعمالهم لهذه الكلمة كما قالوا : لا أدرِ، في لا أدري .
الثانية : بياءين لغة أهل الحجاز وبها جاء القرآن وهي الأصل. ( ).
قال الليث: يجوزُ قصر الحياء ومدُّه وهو غلطٌ لا يجوز قصره لغير الشاعر؛ لأن أصْلَه الحياءُ من الاستحياءِ.
ويدل الحياء على الاستحياء الذي هو ضد الْوَقَاحَةُ ( )، وقد يقابله البذاء ( ) (أي الفحش).
وفي المعجم في مادة (استحيا) قال: استحيا فلان فلاناً، خَجِلَ منه, وفي مادة (الحياء): الاحتشام( ).
قال الأخفش: وهو الانقباض والانزواء.
وقيل الحَيَاءُ: بالمدِّ التَّوبة والحِشْمَةُ( ).
وجاء في الموسوعة الفقهية: الْحَيَاءُ لُغَةً مَصْدَرُ حَيِيَ , وَهُوَ : تَغَيُّرٌ وَانْكِسَارٌ يَعْتَرِي الْإِنْسَانَ مِنْ خَوْفِ مَا يُعَابُ بِهِ وَيُذَمُّ ( )
Bisa dilihat di http://www.saaid.net/Doat/aljarallh/18.doc
9th July 2010 pada waktu 2:39 am
Assalamualaikum ww,
Saya sangat senang dan mendapat banyak masukan setelah membaca tulisan2nya, apalagi dibuat dalam tulisan arabic, bagaimana caranya membuat tulisan arab di web sebagaimana yang terdapat pada tulisan di atas??. terima kasih sebelumnya atas perhatianya
14th July 2010 pada waktu 12:18 pm
@Yuliarman
wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
na’am akhi, untuk menulis dengan tulisan arab bisa dilihat tutorialnya pada link ini:
http://badaronline.com/artikel/mengetik-tulisan-arab-di-komputer.html
14th July 2010 pada waktu 8:21 pm
assalamualiakum alangkah indahnya hidup bila berhiaskan rasa malu…