- Bahasa Arab Online - http://badaronline.com -

Keunikan-keunikan bahasa Arab (4)

>>Beda bacaan tetapi artinya sama saja (satu kata bisa I’rab-nya berbeda-beda)

 

Contohnya pada kalimat,

 

[أحب الفاكهة و لا سيما برتقال]  “Aku menyukai buah-buahan, apalagi buah jeruk

 

Maka kata [برتقال] “burtuqool” bisa dibaca dengan keseluruhan empat macam bacaan pada akhirnya karena berbeda I’rab-nya bisa dibaca “burtuqoolUN” atau “burtuqoolAN” atau “burtuqooliN” atau “burtuqool

Berikut pembahasan I’rab-nya, sekali lagi [maaf] bagi yang sudah belajar dasar-dasar bahasa Arab silahkan mencermati, bagi yang belum mungkin agak membingungkan dan silahkan dilewati (baca : harus semangat belajar bahasa Arab).

 

 

(lihat Mulakhkhas Qowa’idul Lughoh Al Arabiyah hal. 65, Daruts Tsaqafah Al Islamiyah, Beirut)

>>Satu kalimat bisa dibaca berbeda-beda dan artinya juga berbeda-beda

 

Misalnya,

لا تأكل السمك و تشرب اللبن

 

Maka kata [تشرب] bisa dibaca “tasyroB” atau “tasyroBA” atau “tasyroBU” atau TasyroBI

 

 

Berikut pembahasan I’rab-nya, sekali lagi [maaf] bagi yang sudah belajar dasar-dasar bahasa Arab silahkan mencermati, bagi yang belum mungkin agak membingungkan dan silahkan dilewati [baca : harus semangat belajar bahasa Arab].

 

 

(lihat Qowaaidul ‘Asasiyah Lillughotil Arabiyah hal 34, As Sayyid Ahmad Al Hasyimi, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, Beirut, cet.ke-3,1427 H)

 

>>Terkadang harus paham dulu baru bisa dibaca lafadznya

 

Ini salah satu yang paling unik menurut kami. Karena umumnya bahasa yang lain dibaca/dilafadzkan dulu baru bisa dipahami. Lebih-lebih ia juga harus paham i’rabnya. Sudah kita ketahui bahwa bahasa Arab  aslinya adalah “gundul” dan tidak ada harokatnya, karena harokat memang sejarahnya dibuat bagi orang non-Arab. Tanpa bantuan harokat mereka yang belum mengetahui dasar-dasar bahasa Arab tidak bisa membacanya atau melafadzkannya. Contohnya pada Al Qur’an surat An-Nisa ayat 164,

 

و كلم الله موسى تكليما

 

Bacaan yang benar: “Wa kallamallaaHU Muusaa takliima” [Allah benar-benar mengajak bicara Musa]

 

Maka jika pembaca tidak paham maksudnya, maka dia tidak tahu cara membacanya. Apakah lafadz Jalalah  Allah dibaca, “Allahu” atau “Allaha” atau “Allahi

 

Lho dari mana dia tahu maksudnya, padahal belum dibaca, padahal juga yang dibaca adalah sumber ilmunya?

 

Jawabannya : umumnya dari i’rab, konteks kalimat atau maksud kalimat sebelumnya. Pada kasus ini, kalimat bisa dipahami dengan bekal aqidah yang benar, yaitu Allah mempunyai sifat berbicara dan memang Allah yang mengajak Musa berbicara.

Sekali lagi [maaf] bagi yang sudah belajar dasar-dasar bahasa Arab silahkan mencermati, bagi yang belum mungkin agak membingungkan dan silahkan dilewati [baca: harus semangat belajar bahasa Arab].

 

 Karena artinya nanti “Musa mengajak bicara Allah”, karena ada kemungkinan nanti menafikan sifat  Allah (yakni : berbicara) dan ini bentuk tahrif/menyelewengkan sifat Allah.

 Karena tidak ada penyebab majrurnya yaitu huruf jar atau mudhaf ilaih.

 

Dalam bahasa Arab, i’rab terkadang membantu menyempurnakan [menangkap] makna dan terkadang maknanya bisa menyempurnakan i’rab.

 

Satu lagi yang menjadi isyarat yang cukup penting, bahwa orang yang ingin berbahasa arab dengan benar dan fasih, dilatih agar berpikir dahulu baru berbicara. Tidak sembarangan berbicara karena minimal ia memikirkan i’rab/kedudukan kata dalam kalimat. Jelas ini tidak kita dapatkan dalam kebanyakan bahasa karena bahasa Arab itu unik. Dan sesuatu dibilang unik jika jarang sekali dijumpai.

 

Masih ingin tahu keunikan-keunikan lain dari bahasa arab? Tunggu kelanjutannya, insya Allah…

Penyusun :

Ust. dr. Raehanul Bahraen (Alumni Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta)